Dampak Sosial Ekploitasi Gunung Padakasih Cimahi
Hendro
Kartika Juniawan[1]
[1] Mahasiswa
Sejarah Peradaban Islam, UIN Sunan Gunung
Djati Bandung, Email : h3ndro26@gmail.com, @Sosiologi.
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Indonesia adalah Negara yang beriklim Tropis dan
berada di tengah-tengah garis Khatulistiwa dan itu sangat
menguntungkan bagi Indonesia, terlebih bagi kekayaan hayati yang dimiliki oleh
Indonesia. Kesuburan tanah dan juga kekayaan Flora dan juga Fauna membuat Indonesia
menjadi Negara yang bisa dibilang sangat sempurna bila dilihat dari segi kekayaan alamnya. Namun, kekayaan alam yang dimiliki oleh Indonesia tidak menyababkan
tingginya rasa kesadaran dan sosial masyarakatnya terhadap lingkungan dan juga
alam, itu semua terbukti dari banyaknya kasus perusakan alam dan lingkungan
yang dilakukan oleh masyarakat pribumi Indonesia sendiri ataupun pendatang luar.
Itu semua membuat bertambahnya keprihatinan penulis terhadap bumi dan juga alam
Indonesia tercinta.
Banyak kerusakan lingkungan dan juga alam yang
dilakukan oleh masyarakat Indonesia terhadap negaranya sendiri bahkan terhadap
lingkungan dan juga alamnya sendiri. Contoh yang nyata dari hal tersebut
ilalah, seperti penebangan liar, pembakaran hutan, eksploitasi besar-besaran terhadap alam dan contoh kecil dari itu semua
adalah membuang sampah sembarangan yang pada saat ini sedang menjadi hal yang
lumrah dan begitu juga jadi masalah pemerintah terhadap hal tersebut.
Salah satu dari sekian banyak perusakan alam yang nyata,
yang terjadi di depan mata penulis sendiri adalah “Pengeksploitasian Gunung”
yang terjadi di lingkungan penulis sendiri, yaitu yang terjadi pada Gunung
Padakasih, tepatnya di daerah Cimahi, Jawa Barat. Eksploitasi
Gunung Padakasih didasarkan pada hasrat manusiawi untuk mengambil
sebanyak-banyaknya sumber daya alam yang ada demi keuntungan diri sendiri maupun kelompok sebuah lembaga, tak terpungkiri dengan
berjalannya pembangunan proyek penambangan gunung dan juga pengambilan batu berserta pasir yang dilakukan di sekitar
gunung padakasih oleh para industri kecil. Hal tersebut membuat gunung yang
pada asalnya menjulang tinggi dengan gagahnya berubah menjadi gunung yang
gundul yang terbelah dua, yang mana gunung dibelah dua untuk dijadikan jalan
bagi alat-alat berat untuk menuju belakang
gunung
tersebut, contoh alat-alat berat tersebut berupa, beko, mobil truk dan yang
lainnya. Hal tersebut membuat penulis berniat untuk menjadikan pristiwa ini
sebagai salah satu bahan untuk pembuatan makalah sosiologi untuk memenuhi salah
satu tugas UTS sosiologi, begitu juga sebagai suatu curahan hati penulis terhadap
alam dan lingkungan Kampung Padakasih, Kota Cimahi tercinta.
B. Rumusan
Masalah
Terhadap latar belakang
masalah yang telah penulis kemukaan diatas, maka penulis pun juga mengemukakan
beberapa rumusan masalah, diantaranya :
1. Bagaimana proses tejadinya penambangan batu pasang dan juga pasir yang dilakukan disekitar Gunung
Padakasih ?
2. Bagaimana dampak sosial, ekonomi dan lingkungan bagi masyarakat akibat
penambangan batu pasang dan pasir di sekitar Gunung
?
3. Bagaimana penanggulangan yang mungkin
dapat
dilakukan bagi kerusakan alam dan lingkungan di sekitar Gunung akibat pembangunan
proyek penambangan batu pasang dan pasir yang dilakukan
disekitar Gunung Padakasih ?
C. Tujuan
Terhadap rumusan masalah
tersebut maka tujuan yang ingin di ketahui oleh penulis adalah, sebagai berikut
:
1. Untuk mengetahui bagaimana proses tejadinya penambangan batu pasang dan juga pasir yang dilakukan disekitar Gunung Padakasih.
2. Untuk mengetahui bagaimana dampak sosial, ekonomi dan lingkungan bagi
masyarakat akibat penambangan batu
pasang
dan pasir di sekitar Gunung.
3. Untuk mengetahui bagaimana penanggulangan yang mungkin dapat dilakukan bagi kerusakan alam dan lingkungan di sekitar Gunung akibat pembangunan proyek penambangan batu pasang dan pasir yang dilakukan disekitar Gunung Padakasih.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Studi Sosial dan Gejala Sosial
Secara umum, study sosial
adalah sebuah studi (pembelajaran) yang mempelajari aspek-aspek sosial yang
terjadi pada lingkungan sosial baik itu gejala maupun masalah sosial. Menurut
Dr. Nursid Sumaatmaja “Studi Sosial diartikan sebagai studi mengenai interaksi
ilmu-ilmu sosial dalam menelaah gejala dan masalah sosial yang terjadi di
masyarakat. Atau secara praktis, ia dapat pula diartikan sebagai usaha
mengadakan interelasi ilmu-ilmu sosial dalam mengkaji gejala dan masalah sosial
yang terjadi di masyarakat”.[1]
Interaksi ilmu-ilmu sosial,
yaitu diamana antar hubungan disiplin akademik ilmu-ilmu sosial yang di gunakan
untuk menelaah gejala-gejala dan masalah sosial saling berkaitan dan
berhubungan satu sama lain. Dalam menelaah gejala dan masalah sosial, kita
tidak akan dapat mengungkapkannya dengan hanya menggunakan satu atau dua bidang
ilmu pengetahuan sosial saja, karena gejala dan masalah sosial tersebut juga
merupakan ungkapan hasil hubungan beberapa akspek kehidupan sosial. Jadi dalam
kerangka kerja studi sosial, kita dituntut untuk menghubungkan beberapa bidang
ilmu pengetahuan sosial dengan gejala dan masalah yang kita telaah tersebut.[2]
Gejala sosial adalah sebuah
gejala yang terjadi di lingkungan masyarakat, yang ditimbulkan oleh adanya
kondisi, pristiwa, tingkah laku, sikap manusia terhadap lingkungannya sebagai
makhluk sosial. Gejala sosial merupakan tanda-tanda pegungkapan aspek-aspek
kehidupan sosial manusia dilingkungan masyarakat.[3]
Namun bisa diartikan secara singkat bahwa Gejala Sosial adalah sebuah gejala
yang terjadi dilingkungan sosial akibat perlakuan manusia sebagai makhluk
sosial terhadap lingkungannya, sehingga terjadilah sebuah perubahan yang signifikan
yang terjadi pada lingkungan yang mengakibatkan terjadinya gejala sosial.
B.
Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam
Dalam aspek kehidupan sangatlah
berhubungan antara lingkungan dan juga sumber daya alam, yang mana lingkungan
adalah sebuah kondisi dan juga faktor eksternal yang mempengaruhi semua
organisme, baik biotik yang terdiri dari makhluk hidup dan juga abiotik yang
terdiri dari energi, bahan kimia dan yang lainnya,[4]
lalu Lingkungan Hidup adalah suatu benda hidup atau mati yang berada disekitar
kita dan juga mempengaruhi kita.[5]
Sumber daya alam yang tertuju pada energi sumber daya
ada pada salah satu dari aspek lingkungan tersebut. Sumber
daya alam adalah suatu bentuk bahan atau energi yang diperoleh dari lingkungan
fisik yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Namun begitu, sumberdaya
alam sangat tergantung pada beberapa aspek yaitu : teknologi, ekonomi, budaya
dan pengaruh lingkungan saat mendapatkan atau menggunakan sumber daya tersebut.
Sesuatu menjadi berguna atau tidak berguna bagi manusia sebagai akibat dari
adanya perubahan teknologi, nilai ekonomi, perubahan budaya dan pengaruh
lingkungan saat mendapatkan atau mengunakan sumber daya tersebut.[6]
Dalam cara pembaharuannya sumber daya alam dikelasifikan ke dalam dua kelompok,
yaitu :
1. Sumber
daya alam yang dapat diperbaharui (renewable resources)
Sumber daya alam yang dapat
diperbaharui adalah sumber daya yang berasal dari sumber yang tidak dapat habis
(misalnya energi surya) atau yang dapat diperbaharui dan pulih kembali dengan
cepat secara alamiah ataupun dengan campur tangan (pengelolaan) manusia. Sumber
daya yang dapat diperbaharui (renewable) tidak akan habis bila laju
pemanfaatannya lebih rendah dari laju pembaharuannya secara alami atau dengan kontrol
manusia.
Contohnya
: tanaman pangan, hewan, padang rumput, hutan, udara, air dan tanah.[7]
2. Sumber
daya alam yang tidak dapat diperbaharui (nonrenewable resources)
Sumber daya yang tidak dapat
diperbaharui adalah sumber daya yang dapat digantikan oleh proses alam atau
laju penggantiannya lebih rendah dari laju pemanfaatannya. Secara
pemanfaatannya sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui (non renewable) dapat
dikelompokan ke dalam beberapa kelompok yaitu :
a. Sember
daya yang dapat didaur ulang (recycling) atau digunakan kembali (reuse).
Contohnya : mineral logam (tembaga, alumunium, dan besi) dan mineral nonlogam
(batuan fosfat).
b. Sumber
daya yang tidak dapat di daur ulang atau tidak dapat digunakan kembali.
Contohnya : bahan bakar fosil (batu bara, minyak dan gas alam), dan uranium
(untuk pembangkit listrik tenaga nuklir).[8]
C.
Eksploitasi dan Kerusakan Alam serta Lingkungan
Eksploitasi berasal dari bahasa inggris yaitu
exploitation yang berarrti pemerasan, eksploitasi adalah politik pemanfaatan atas
kepentingan ekonomi. Eksploitasi sumber daya alam berarti mengambil dan
menggunakan sumber daya alam itu untuk tujuan pemenuhan kebutuhan hidup
manusia. Ekploitasi sumber daya alam yang mengabaikan lingkungan mengancam
keberlanjutan dan ketersediaan sumber daya alam yang ada, maka hal mengenai
pemanfaatan sumber daya alam telah di atur sedemikian rupa dalam konstitusi
kita, yaitu dalam pasal 33 ayat 3 Undang-undang Dasar 1945 menjelaskan bahwa
“Bumi dan air dan kekayaan yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besarnya demi kemakmuran rakyat”. Pengambilan sumber daya alam harus dilakukan
dengan sebaik mungkin tanpa merusak alam dan membunuh seluruh ekosistem yang
ada didalamnya agar dapat di gunakan dan diperbaharui kembali dimasa yang akan datang.[9]
Kerusakan lingkungan hidup merupakan
deteorisasi lingkungan yang ditandai dengan hilangnya sumber daya tanah, air,
udara, punahnya fauna liar, dan kerusakan ekosistem. Kerusakan
lingkungan merupakan ancaman yang paling berbahaya untuk kelangsungan hidup
manusia. Saat alam rusak karena dihancurkan dan kehilangan sumber daya, itu
merupakan tanda bahwa lingkungan mengalami kerusakan. Factor penyabab
terjadinya kerusakan lingkungan hidup terdapat 2 macam, yaitu :
1. Kerusakan
akibat factor alam
Kerusakan lingkungan hidup oleh alam
terjadi karena adanya gejala atau peristiwa alam yang terjadi secara hebat
sehingga mempengaruhi keseimbangan lingkungan hidup. Peristiwa-peristiwa alam
yang mengakibatkan kerusakan lingkungan antara lain, yaitu seperti : Letusan
Gunung Api, Gempa Bumi, Banjir, Tanah Longsor, Angin Topan, dan Kemarau
Panjang.
2. Kerusakan
Lingkungan Hidup Akibat Aktivitas atau Ulah Manusia
Manusia sebagai khalifah di muka
bumi ini berperan besar dalam menentukan kelestarian lingkungan hidup. Manusia
sebagai makhluk ciptaan tuhan mampu merubah wajah dunia dari pola kehidupan
sederhana sampai kebentuk kehidupan modern seperti sekarang ini. Namun sayang,
seringkali apa yang dilakukan manusia tidak diimbangi dengan pemikiaran akan
masa depan kehidupan generasi berikutnya. Banyak kemajuan yang diraih oleh
manusia membawa dampak buruk terhadap kelangsungan lingkungan hidup, yaitu
seperti : Pemburuan hutan yang membabi buta, Kebakaran hutan, Penggundulan
hutan, Penambangan, Limbah industri, dan Radiasi nuklir.[10]
D.
Eksploitasi Terhadap Gunung Padakasih
Sumber daya alam yang ada di sekitar
kita adalah sebuah anugerah yang di karuniakan tuhan kepada kita sebagai
manusia, yang mana anugerah itu selayaknya kita syukuri dengan cara
memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya dan menjaga kelestariannya. Salah satu
dari sumber daya alam adalah Gunung yang mana gunung memberikan banyak manfaat
bagi kehidupan dan kebutuhan manusia, baik itu dari tanaman dan hewan yang ada
di dalamnya, tanah, batu, dan segala yang menjadi bagian dari padanya, dan
semua itu selayaknya di jaga oleh manusia dan di manfaatkan dengan
sebai-baiknya tanpa meng-Eksploitasi secara berlebihan sumber daya yang ada
padanya. Dan salah satu gunung sebagai sumber daya alam adalah Gunung Padakasih
yang mana telah banyak di ambil manfaat dan sumber daya alamnya untuk keperluan
dan kebutuhan masyarakatnya.
1.
Pengenalan Gunung Padakasih
Gunung Padakasih adalah salah
satu dari rangkaian gunung-gunung kecil yang melingkari Kota Bandung. Posisi
gunung padakasih berada di sebelah barat kota bandung, tepatnya di
perbatasan antara Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat[11],
tepatnya di daerah Kampung Padakasih Rt08 Rw08, Kelurahan Cibeber, Kecamatan
Cimahi Selatan, Kota Cimahi. Gunung padakasih memiliki ketinggian ± 946 m, letak
gunung padakasih kurang lebih 10 km dari pusat kota yang mana bisa di jangkau
dengan cara naik kendaraan pribadi atau kendaraan umum (angkot), kendaraan umum
yang dapat di gunakan untuk menuju gunung padakasih adalah angkot, angkot yang
dapat digunakan yang berwarna biru yang mengambil rute dari Cimahi menuju
Cangkorah dan sebaliknya yang melewati Kampung Padakasih, dengan harga ± hanya
5 Rb rupiah.
Secara umum gunung padakasih
bukan lah gunung yang terbilang menarik, namun bagi penulis sendiri gunung
padakasih adalah gunung yang istimewa karena berada di dekat tempat tinggal
penulis dan dari penulis kecil hingga sekarang gunung tersebut masih kokoh
berdiri walau dengan segala kerusakan yang ada pada badan gunung tersebut saat
ini. Walau gunung padakasih tidak di jadikan sumber mata pencaharian utama bagi
masyarakat sekitarnya, namun masyarakat sekitar menggunakan gunung padakasih
sebagai media penanaman pohon-pohon yang akan di manfaatkan oleh masyarakat
sekitarnya pada masa berbuah atau panen, seperti : pohon manga, rambutan,
campoleh, sirsak, umbi-umbian dan yang lainnya. Namun seiring dengan
perkembangan jaman masyarakat sekitar disibukkan dengan pekerjaan yang lain,
mereka lebih fokus terhadap sumber mata pencaharian utama mereka, sehingga
mereka kurang mempedulikan alam begitu juga gunung padakasih sendiri, sehingga
mereka kurang memanfaatkan gunung padakasih sendiri dan akhirnya, pepohonan
yang ada di sekitar gunung padakasih adalah pepohonan atau tanaman liar yang
tumbuh dengan sendirinya karena masyarakat sudah terbilang jarang menanam dan
mempergunakan gunug padakasih lagi. Selain sebagai media penanaman pohon, sudah
sekian lama sebagian dari gunung padakasih di jadikan area pemakaman umum bagi
masyarakat sekitar yang meninggal dunia, yang tidak memiliki tempat untuk
pemakannya sendiri.
2.
Proses Terjadinya Proyek Penambangan Batu Pasang dan Pasir di Sekitar Gunung Padakasih
Gunung Padakasih awalnya
adalah gunung yang bisa dibilang subur karena banyak sebagian masyarakat yang
menanami pohon di gunung tersebut dan banyak pohon dan tanaman yang tumbuh
dengan sendirinya di sekitar gunung tersebut, sampai masyarakat disekitarnya
kurang mempedulikan gunung tersebut lagi dan akhirnya berjalan lah proyek penambangan
batu pasang dan pasir di gunung padakasih tersebut, proyek tersebut di lakukan
oleh industri pertambangan kecil yang mana proyek tersebut mulai
berjalan dari pertengahan bulan juni hingga sekarang, yang awalnya banyak warga
yang kurang setuju dengan pembangunan proyek tersebut, karena atas dasar dampak
buruk yang mungkin bias ditimbulkan, seperti mungkin banjir atau pun juga
longsor, namun selain banyak yang tidak
setuju ada pula warga sekitar yang setuju yang lebih berpihak pada pembangunan
proyek tersebut karena atas dasar di berikannya jaminan terhadap dampak yang di
timbulkan dan juga biaya atau uang bagi warga sekitar, uang tersebut untuk
memberikan ganti terhadap gangguan yang ditimbulkan proyek tersebut terhadap
warga sekitar. Sampai sekarang proyek tersebut telah menghabiskan sebagian dari
badan gunung karena diambil batu dan juga pasirnya, sampai demi melancarkan
jalan yang dilalui alat-alat berat, proyek tersebut membelah gunung menjadi dua
untuk mengambil dan mengeruk batu dan juga pasir dari belakang gunung. Memang
dari depan gunung padakasih terlihat seperti biasa hanya seperti gunung yang
dibelah dua saja, namun dari belakang gunung padakasih sudah nampak rusak dan
di gunduli, bahkan saat penulis survei ke lokasi penambangan, di belakang gunung
tersebut hampir sudah rata.
Proses pengambilan batu dan
pasir yang terjadi digunung padakasi di lakukan dengan cara manual dan juga
otomatis, secara manual pengambilan batu di lakukan oleh manusia atau pekerja
sendiri dengan menggunakan alat-alat bantu yang lain seperti : cangkul dan juga
martil, para pekerjapun tidak di berikan alat perlengkapan keamanan seperti
sarung tangan, helem dan alat keselamatan penunjang lainnya, para pekerja hanya
menggunakan alat dan perlengkapan seadanya, secara otomatisnya
pengambilan tanah dilakukan dengan menggunakan alat berat seperti beko dan yang
lainnya, lalu batu dan pasir yang sudah di kumpulkan di angkut menggunakan truk
menuju tempat yang dituju, lalu selanjutnya diperjual belikan.
3.
Dampak Sosial Proyek Penambangan Batu Pasang Terhadap Lingkungan dan Masyarakat
Industri pertambangan
merupakan salah satu industri andalan pemerintah Indonesia untuk mendatangkan
devisa. Selain mendatangkan devisa industry pertambangan juga menyedot lapangan
kerja dan bagi kabupaten dan kota merupakan sumber Pendapatan Asli Daerah
(PAD). Industri pertambangan selain mendatangkan devisa dan menyedot lapangan
kerja juga rawan terhadap pengrusakan lingkungan. Banyak kegiatan penambangan
yang mengundang sorotan masyarakat sekitarnya karena pengrusakan lingkungan,
apalagi penambangan tanpa izin yang selain merusak lingkungan juga membahayakan
jiwa penambang karena keterbatasan pengetahuan si penambang dan juga karena
tidak adanya pengawasan dari dinas instansi terkait. Menurut Undang-undang Nomor
23 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan, pengrusakan lingkungan adalah
tindakan yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat
fisik dan atau hayatinya yang mengakibatkan lingkungan hidup tidak dapat
berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan.[12]
Dalam suatu pembangunan
industri pasti ada suatu dampak yang dihasilkan, dan dampak tersebut juga bisa
berdampak ganda. Baik dampak positif ataupun dampak negatif yang akan di alami
suatu masyarakat yang ada di lingkungan industri tersebut, dampak itu berupa
dampak kehidupan sosial, dampak ekonomi, maupun dampak lingkungan. Semua dampak
tersebut akan berimbas pada perubahan-perubahan yang terjadi dimasyarakat.
Begitupun pada pembangunan
industri yang ada di sekitar Gunung Padakasih, industry penambangan di gunung
tersebut selain menimbulkan hal yang baik dan menguntungkan bagi masyarakat,
juga dapat menimbulkan dampak yang buruk bagi masyarakat sekitarnya. Hal baik
yang di timbulkan dari pembangunan industri pertambangan tersebut adalah dapat
menghasilkan dana tambahan kepada pemerintah sekitar dan mengisi kas-kas bagi
pemerintah sekitar, seperti kas RT maupun Rw sekitar, selain
menghasilkan dana tambahan bagi pemerintah desa setempat, pembangunan pertambangan
batu dan pasir tersebut juga bisa menjadi salah satu lahan pekerjaan,
alternative pekerjaan bagi para pengangguran dan yang belum berpenghasilan di
lingkungan sekitar pembangunan tersebut. Namun selain memberikan hal yang baik
atau positif juga dapat menghasilkan dampak buruk atau negative bagi kondisi
sosial setempat baik dalam aspek sosial, ekonomi maupun dampak lingkungan.
1. Dampak
Kehidupan Sosial
Dampak yang ditimbulkan pertambangan
terhadap kehidupan sosial lingkungan sekitarnya adalah dimungkinkan terjadinya
masalah seperti konflik antar masyarakat dengan pekerja pertambangan karena
ketidaknyamanan masyarakat terhadap proses pengerjaan permbangunan tersebut,
juga menyebabkan perubahan sosial pada masyarakat, baik prilaku sosial, mental
masyarakat sekitar yang lebih memilih menjadi pekerja tambang ketimbang mencari
pekerjaan dan pendapatan lain yang lebih baik dikarenakan betapa mudahnya di
terima menjadi pekerja pertambangan apalagi bagi warga sekitar, perubahan pola
mata pencaharian dan yang lainnya. Masalah sebenarnya adalah suatu keadaan atau
pristiwa yang tidak berjalan sebagaimana mestinya sehingga menimbulkan
persoalan bahkan sampai kepada konflik. Menurut Prof. Dr. R. Bintaro mengatakan
bahwa “masalah atau problem adalah apabila sesuatu mengganggu ketenangan atau
ketentraman penduduk dan dimana masih selalu dapat diharapkan akan
penyelesaiannya”.
2. Dampak
Ekonomi
Keberadaan petambangan di Gunung
Padakasih merupakan suatu yang penting bagi
sebagian warga sekitar, mengapa? Karena warga sekitar juga
sebagian bergantung pada keberadaan pertambangan, sebab warga
sekitar juga banyak yang menjadi pekerja tambang di proyek tersebut. Sehingga
bagi perekonomian sebagian warga pertambangan adalah suatu yang penting bagi
sebagian mereka. Bila di lihat dari dampak perekonomian warga sekitar dan
pemerintah desa, ada yang berdampak positif dan ada juga yang berdampak negatif,
dampak positifnya pertambangan menjadi salah satu lapangan pekerjaan bagi
sebagian masyarakat sekitar, juga sebagai peningkat ekonomi masyarakat dan
pendapatan masyarakat, juga sebagai dana tambahan bagi kas pemerintah desa.
Namun selain dampak positif dampak negative yang ditimbulkan adalah
memungkinkannya terjadi pengangguran besar setelah pertambangan berhenti,
apalagi kondisi ini mungkin akan diperburuk dengan aspek sosial dan psikoligis
warga sekitar yang bekerja, karena setelah lama mereka bekerja mereka sudah
terlalu nyaman dengan pekerjaan yang mereka dapatkan, sehingga membuat mereka tidak
mau mencari pekerjaan selain menjadi buruh atau pekerja tambang lagi.
3. Dampak
Lingkungan
Selain dampak sosial dan ekonomi
yang telah di terangkan tadi, dampak yang paling besar dan memungkinkan bagi
penambangan Gunung Padakasih tersebut adalah dampak terhadap lingkungan. Dampak
yang secara real penulis perhatikan bahkan sebagian penulis alami adalah banjir
yang pada mulanya penulis alami, pada permulaan berjalannya penambangan saat
turun hujan terjadi banjir dibarengi dengan lumpur tanah atau penduduk sekitar
sering menyebut “Leutak” yang berasal dari proses sisa pertambangan batu dan
pasir di atas permukiman warga, setelah di selidiki air dan lumpur tersebut
berasal dari gungung yang di jadikan
media penambangan, dikarenakan lahan sekitar seperti pohon dan rumput yang di
jadikan penambangan pada gunung habis di bersihkan dan di tebang sehingga
aliran air hujan dari gunung tidak tertahan oleh pohon dan rumput sebagaimana
mestinya, sehingga aliran deras air di sertai lumpur yang berasal dari gunungpun
turun mengalir kepemukiman warga sehingga warga yang mendapat dampak dan
imbasnya, banyak rumah warga yang terkena banjir dan lumpur tersebut, tak ayal
hal tersebut membuat warga resah dan terganggu.
Selain banjir dampak yang dirasakan
warga terhadap pembangunan penambangan tersebut adalah Polusi Udara dan Polusi
Suara, polusi udara yang ditimbulkan dari hasil penambangan adalah debu dan
pasir yang bertebaran sehingga mengganggu kediaman warga yang berada dekat
dengan tempat penambangan tersebut, selain polusi udara, polusi yang di alami
warga sekitar juga polusi suara yang mana polusi suara dari alat-alat
berat yang digunakan untuk penambangan tersebut juga mengganggu warga yang
dekat jaraknya dengan tempat penambangan, dan juga banyaknya lalu lalang mobil
truk besar yang mengangkut pasir dan juga batu dari atas gunung, sehingga
selain menimbulkan kebisingan juga membuat jalan-jalan sekitar menjadi
terganggu, kotor dan juga rusak.
Selain banjir, polusi udara dan
suara dampak yang mungkin di timbulkan dan menjadi kekhawatiran penulis dan
mungkin warga sekitar adalah takutnya terjadi longsor. Kegiatan
penambangan pasir dengan laju yang tinggi akan mengakibatkan kemungkinan besar
terjadinya Erosi atau pengikisan pada bidang tanah, menyebabkan sebagian tanah
yang berada di sekitarnya, terutama yang berada di bagian atas akan mengalami
longsor[13], karena banyaknya
pasir dan batu yang di tambang dan di ambil, dan juga banyaknya rongga-rongga di
badan gunung akibat erosi yang memungkinkan beberapa tahun kedepan setelah kondisi
fisik gunung semakin parah dan di tambah hujan deras tidak menutup kemungkinan
akan terjadinya longsor, dan hal itulah yang paling di takutkan oleh warga
sekitar.
4.
Penanggulangan Terhadap Dampak dari Proyek Penambangan Batu Pasang dan Pasir
Dalam pembangunan pertambangan
banyak dampak yang ditimbulkan sebagaimana yang tadi telah penulis jelaskan,
sehingga. Dalam penanggulangan dampak buruk yang ditimbulkan dari pembangunan
pertambangan batu dan pasir di Gunung Padakasih, maka peran seluruh lapisan
masyarakat di sekitar sangat di perlukan. Mungkin hal yang mungkin dapat di
lakukan dalam menanggulangi hal tersebut adalah :
1. Peran
Masyarakat dan Pemerintah Sekitar
Dalam penanggulangan tersebut, yang
mungkin dapat dilakukan oleh masyarakat sekitar adalah dengan
cara mengadakan musyawarah antar masyarakat dan pejabat atau pemimpin
pertambangan yang membicarakan mengenai masalah tersebut sehingga dapat
menemukan titik terang antar hal tersebut agar proyek penambangan tidak di
hentikan dan masyarakatpun tidak akan terkena dampak negatifnya. Sedangkan
dalam musyawarah di atas pemerintah memiliki andil besar dalam menengahi
musyawarah tersebut sehingga dengan kekuasaan pemerintah dan dengan wewenangnya
bisa menghasilkan keputusan yang netral yang dapat memberikan kepuasan bagi
masyarakatnya dan tidak membuat pihak pertambangan merasa dirugikan.
2. Langkah
Lebih Lanjut
Dalam penanggulangan tersebut selain
mengandalkan musyawarah antar kedua belah pihak dan juga peran dan kewenangan
dari pemerintah juga kita bisa melakukan langkah-langkah lebih lanjut, seperti
:
ü Melakukan
kampanye sadar lingkungan yang di lakukan oleh karangtaruna
yang bekerja sama dengan pemerintah desa sekitar, sehingga karangtaruna
bisa menyampaikan gagasan kampanye sadar lingkungan kepada masyarakat dan menjalankannya
secara optimal.
ü Masyarakat
khususnya pekerja penambangan batu dan pasir harus memperhartikan lingkungan
dan badan sekitar gunung, di mungkinkan para pekerja bisa diminta untuk menanam
kembali pohon apabila akan pindak kebagian gunung lain yang akan di ambil lagi
batu beserta pasirnya. Sehingga hal ini akan membuat lahan yang sudah di
tambang akan ditumbuhi lagi pepohonan dan rerumputan baru, sehingga dapat
mengatasi sedikitnya penyebab banjir yang telah di alami warga sekitar.
ü Pemerintah
desa mungkin bisa menghimbau kepada masyarakat untuk mengadakan kegiatan gotong
royong atau kerja bakti yang di jadikan perogram mingguan untuk membersihkan
lingkungan dan tanggap akan segala hal yang memungkinkan akan mengakibatkan
banjir atau longsor dan sebagainya.
ü Yang
terakhir mungkin peran pemerintah yang paling besar setelah langkah-langkah di
atas dilakukan yaitu dengan melakukan arahan-arahan dan pengamatan terhadap
masyarakat dan pekerja proyek penambangan agar hal yang tidak di inginkan bisa
di atasi dengan secepatnya.[14]
Mungkin itulah beberapa
kemungkinan yang dapat penulis sampaikan untuk menanggulangi beberapa masalah
dan dampak buruk bagi masyarakat, atas adanya pembangunan pertambangan batu dan
pasir di area sekitar Gunung Padakasih tersebut.
.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hal yang telah
di bahas di atas tadi maka penulis bisa menyimpulkan seperti berikut ini :
ü
Penambangan yang di lakukan di sekitar Gunung Padakasih oleh industri
kecil menimbulkan beberapa hal baik positif maupun negatif, hal tersebut
disebabkan dari berjalannya proses pengambilan batu dan juga pasir dari sekitar
gunung. Proses pengambilan batu dan pasir di lakukan dengan
cara manual dan juga otomatis, secara manual pengambilan batu di lakukan oleh
manusia atau pekerja sendiri dengan menggunakan alat-alat bantu yang lain
seperti : cangkul dan juga martil, secara otomatisnya pengambilan tanah
dilakukan dengan menggunakan alat berat seperti beko dan yang lainnya, lalu
batu dan pasir yang sudah di kumpulkan di angkut menggunakan truk menuju tempat
yang dituju, untuk berikutnya di perjual belikan.
ü
Selama proses penambangan batu dan pasir
berjalan, banyak dampak yang ditimbulkan dan yang di alami oleh warga sekitar,
baik dalam aspek kehidupan sosial, eknomi maupun dampak terhadap lingkungan, hal
yang paling besar dialami warga sekitar adalah dampak lingkungan, bagaimana
selama berjalannya proyek penambangan tersebut masyarakat terkena imbas seperti
banjir yang disertai dengan lumpur, juga polusi udara dan suara.
ü
Setelah warga sekita merasakan dampak dari
pembangunan peroyek penambangan tersebut maka harus diadakannya penanggulangan
untuk meminimalisir setidaknya imbas buruk yang diterima warga dari pembangunan
tersebut, dan hal ini tidak jauh meliputi peran masyarakat dan pemerintah daerah sendiri.
DAFTAR
PUSTAKA
Sumaatmaja,
Nursid. 1986. Pengantar Studi Sosial.
Bandung : Alumni.
Soegianto,
Agoes. 2005. Ilmu Lingkungan. Surabaya
: Surabaya Airlangga University Press.
Yudhitira, Wahyu Krisna, Agus Hadiyanto. 2011.
“Kajian
Dampak Kerusakan Lingkungan Akibat Kegiatan Penambangan Pasir Di Desa Keningar
Daerah Kawasan Gunung Berapi”, Jurnal Ilmu Lingkungan Program Studi Ilmu Lingkungan
Program Pasca Sarjana UNDIP.
Nagita Yanti, Siska. 2012.
“Skripsi
Dampak Sosial Pembuatan Batu Bata Terhadap Masyarakat”. Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik,
UIN SGD Bandung.
Nur
Diahwanti, Irnani. 2007. “Kajian
DampakLingkungan Kegiatan Penambangan Pasir Pada Daerah Sabuk Hijau Gunung
Sumbing Di Kabupaten Temanggung”, Tesis Program Study Ilmu Lingkungan Pasca
Sarjana UNDIP.
Rian Wiraharta, “Pengertian,
Faktor Penyebab, Upaya dan Contoh Kerusakan Lingkungan Hidup”, Rian
Wiraharta Blog, diakses dari https://rianwiraharta.blogspot.com/2005/03/pengertian-faktor-penyebab-upaya.html?=1, pada tanggal 26 maret 20016 pukul 16:01 WIB
Ilham Irdian, “Eksploitas
Alam”, Ilhamirdian, diakses dari https://ilhamirdian.wordpress.com/2012/04/21/eksplitasi-alam/, pada tanggal 25 maret 2016 pukul 19:59 WIB
Wikipedia, “Gunung
Padakasih”, diakses dari https://id.m.wikipedia.org/wiki/Gunung_padakasih, pada tanggal 26 maret 2016 pukul 15:27 WIB
Skripsi PAI, “Cara
Penulisan Footnote, Ibid, Op.Cit, Loc.Cit Yang Benar”, diakses dari http://skripsi-tarbiyahpai.blogspot.com/2014/05/cara-penulisan-footnote-ibid-opcit-loc.html?m=1, pada tanggal 26 maret 2016 pukul 19:45 WIB
[4] Agoes
Soegianto, Ilmu Lingkungan (Sarana Menuju
Masyarakat Berkelanjutan), Airlangga University Press (AUP), Surabaya,
2005, hlm. 1
[5] Rian
Wiraharta, “Pengertian, Faktor Penyebab,
Upaya dan Contoh Kerusakan Lingkungan Hidup”, Rian Wiraharta Blog, diakses
dari https://rianwiraharta.blogspot.com/2005/03/pengertian-faktor-penyebab-upaya.html?=1, pada
tanggal 26 maret 20016 pukul 16:01 WIB
[9] Ilham Irdian, “Eksploitas
Alam”, Ilhamirdian, diakses dari https://ilhamirdian.wordpress.com/2012/04/21/eksplitasi-alam/, pada tanggal 25 maret 2016 pukul 19:59 WIB
[10] Rian
Wiraharta, “Pengertian, Faktor Penyebab,
Upaya dan Contoh Kerusakan Lingkungan Hidup”, Rian Wiraharta Blog, diakses
dari https://rianwiraharta.blogspot.com/2005/03/pengertian-faktor-penyebab-upaya.html?=1, pada
tanggal 26 maret 20016 pukul 16:01 WIB
[11] Wikipedia,
“Gunung Padakasih”, diakses dari https://id.m.wikipedia.org/wiki/Gunung_padakasih, pada
tanggal 26 maret 2016 pukul 15:27 WIB
[12] Yuditira
dkk, “ Kajian Dampak Kerusakan Lingkungan
Akibat Kegiatan Penambangan Pasir Di Desa Keningar Daerah Kawasan Gunung
Berapi,” Jurnal Ilmu Lingkungan Program Studi Ilmu Lingkungan Program Pasca
Sarjana UNDIP, 2011, hlm. 76-77
[13] Irnani Nur Diahwanti, “Kajian DampakLingkungan Kegiatan
Penambangan Pasir Pada Daerah Sabuk Hijau Gunung Sumbing Di Kabupaten
Temanggung”, Tesis Program Study Ilmu Lingkungan UDS (Universitas
Diponegoro Semarang), 2007, hlm. 75
[14] Siska
Nagita Yanti, “Skripsi Dampak Sosial Pembuatan Batu Bata Terhadap
Masyarakat”, UIN SGD Bandung, Bandung, 2012, hlm. 78-79