Rabu, 03 Oktober 2018

SANG PEMIMPI

SANG PEMIMPI

Oleh :
H. Saefullah
(Bandung, 8 Agustus 2018)




Pelita menerangi pertengahan malam
Semburatnya menjalar ke setiap sisi yang tak terhijab oleh materi
Di bawah naungannya, Sang Pemimpi masih asyik dengan rutinitas malam
Mengarungi samudra lelap penuh fatamorgana, diujung ombak realitas hidup

             Ketika malam mulai beranjak pada puncak eksistensinya
             Dimana ketika dzatnya termanifestasikan pada gelap dan pekatnya
             Sang pemimpi hampir terjaga dari tidurnya
             Namun ketika ia beranjak, mimpi menjegal jiwa untuk tetap lelap dalam tidurnya

Mimpi merupakan angan yang terpisah dari realitasnya
Memaksa keluar dari persepsi tuannya
Kemudian memanjat benteng kesadaran dan melompat
Menemui jiwa, untuk bermalam bersamanya

             Tak semua jiwa, mampu untuk berdamai dengan mimpinya
             Namun, semua mimpi merupakan persepsi jiwanya
             Terkadang, ia memilih menamfikannya
             Kadang juga menjabat tangannya
                                                         
Dalam mimpi kau dapat menjadi ini
Dalam mimpi kau dapat menjadi itu
Dalam mimpi kau juga dapat menjadi apapun dan siapapun

             Tidak sulit untuk menjadi orang lain dalam mimpimu
             Namun sangat sulit untuk menjadi tetap dirimu dalam mimpimu
             Hanya Sang Pemimpi yang dapat melakukannya
****

AMBISI

AMBISI

Oleh :
H. Saefullah
(Bandung, 1 Muharam 1440 H)


Foto: de_j@vu

Ambisi menyeret harapan keluar dari angan
Menyuapinya dengan sebulir mimpi dan secangkir keyakinan
Dengan di bubuhi taburan semangat keteguhan
Dan, adukan ke egoisan

Dia membawanya melintasi lautan harapan
Menerjang gelombang keterbatasan
Hingga, terdampar di pulau kenyataan
Pingsan dan tak sadarkan

Ia menyiramnya dengan segenggam air ketidak berdayaan
Hingga terbangun dari lelapnya keukhrowian
Kembali pada realitas keduniawian
Terpesona akan kebijaksanaan kehidupan

Ia sadar akan batasan
Ia sadar akan ketidak mampuan
Ia sadar akan ke egoisan

Namun, ambisi tidak pernah lelah
Tak pernah lelah akan kegagalan
Tak pernah lari dari kenyataan 

Ia bak energi yang mengalir pada angan
Membawa harapan pada ujung penantian


***

Kawan, Mengapa Begini Kita?

Kawan, Mengapa Begini Kita?[1]




[1] Dunia Literasi, Kawan, Mengapa Begini Kita?, diakses melalui http://dunialiterasi.co.id/, Pada 10/03/2018, Pukul 10.20 WIB.

Oleh :
H. Saefullah
(Bandung, 26 Oktober 2017)


Foto: static.wixstatic.com

Kawan, sudah setengahnya lebih perjalanan pendidikan kita.
Sudah berkali-kali kita berjumpa bersama.
Kita berjumpa di ruangan dimana kita menuai lentera pengetahuan.
Ruangan yang kita anggap sakral penuh harapan.

Kawan, apa kau tahu makna dari apa kita dipertemukan.
Dipertemukan dengan segala macam perbedaan.
Perbedaan pemahaman, keraguan, kenistaan, dan penderitaan.
Kita dipertemukan dengan perbedaan harapan dan tujuan.

Kawan, apa kau tahu betapa sulitnya kita bisa dipertemukan bersama.
Dipertemukan di sebuah tempat dengan harapan keniscayaan.
Yang kata orang tempat bagi kaum berpendidikan.
Yang kata orang tempat bertaruh bagi kehormatan dan kedudukan.

Tapi kawan, apa kau tahu, berapa peluang yang coba kami dapatkan.
Berapa pengorbanan yang harus kami pertaruhkan.
Berapa kegelisahan yang harus kami rasakan.
Hanya untuk bisa mendapatkan tempat terbaik dalam menentukan masa depan.

Kawan, apa kau sanggup membunuh segala harapan.
Harapan yang mutlak kami dapatkan.
Bahkan sang esa pun kami duakan.
Hanya untuk menyelesaikan tugas dan urusan yang dibebankan.

Kawan, sudah lama kita saling mengenal.
Mengenal nama dan kampung halaman.
Kita berbincang mengenai harapan.
Harapan hari esok yang mungkin tak ter-realisasikan.

kawan, apa kau tahu apa yang aku rasakan.
Merasa lelah, muak, marah, dalam kesendirian.
Sungguh miris melihat keadaan.
Keadaan kita yang tak sesuai kenyataan.

Kawan, katanya kita saling berteman.
Katanya kita berteman dalam peradaban.
Tapi apa kenyataan yang memuakkan.
Ketika kami duduk di depan kau pecundangkan.

Kawan, bisakah kau buang semua yang kau pakai di dalam ruangan.
Ruangan dimana kita saling bertatapan.
Dimana tak ada simbol ketika kita saling bertukar pikiran.
Bertukar pikiran dengan sehat dan penuh toleran.
Sehingga kita bisa melangkah bersama menuju masa depan.

Kawan, jangan anggap kami bodoh, karena kami tidak tahu apa-apa.
Jangan anggap kami berbeda, kerena kami tidak dari asal yang sama.
Tapi anggap lah kami seperti seorang saudara.
saudara yang akan menemani suka dan duka.

Kawan, apa ini hanya terjadi pada kita.
Ntah atmosfir apa yang mempengaruhi kita.
Sehingga kita menjadi seperti burung hantu yang buta.
Buta akan segala hal didekat kita.

Kawan, ketika kami duduk di depan, berilah sambutan yang istimewa.
Sambutan yang melegakan dan menenangkan jiwa.
Jangan acuhkan kami seperti sampah yang tak berguna.
Yang kami ingin, hanya perhatian dan kerjasama diantara kita.

Kawan, apa kau tahu apa yang salah pada diri kita.
Yaitu membuat mati teman yang duduk di depan kita.
Membuatnya resah gundah gulana.
Membuatnya merasa frustrasi dan putus asa.

Kawan, sudah kulihat hampir disetiap pertemuan kita.
Tidak ada penghargaan yang kau berikan pada sesama.
Ketika kami gelagapan mencari kata-kata, kau malah asyik tertawa.
Ketika kami salah, kau malah mencibir dan menghina.

Kawan, sudah kulihat hampir setiap pertemuan kita.
Ketika kami berbicara, kau malah asik bercanda.
Ketika kami berbicara, kau malah asik diskusi mendua.
Ketika kami berbicara, kau malah asik tidur tanpa menghiraukan sesama.

Kawan, kau anggap kami ini apa?
Radio butut yang memekakan telinga?
Sampah plastik yang kau anggap hina?
Atau, koran lama yang tidak bermakna?

Kawan, sudah kulihat hampir di setiap pertemuan kita.
Tak ada persahabatan diantara kita.
Sepertinya kita bukan saudara.
Jika memang saudara, mengapa kau buat kami merasa terhina.

Kawan, kau anggap kami ini hiburan belaka.
Kami berbicara, kau ribut sejadi-jadinya.
Ketika kami selesai bicara, kau diam seribu bahasa.
Ketika sang dewa datang, kau seperti kerbau yang tak berdosa.
Pura-pura memperhatikan kami yang sudah kau hina.
Akhirnya kami merasa sakit dan terluka.

Kawan, akan kah kita seperti ini sampai saatnya kita berpisah.
Akan kah kita seperti pengemis yang nestapa.
Melihat sang dewa berbicara mengenai jagadraya.
Kita hanya berpura-pura memahaminya.

Kawan, apa kau tidak merasa sepi di ruangan kita.
Hanya ada suara jangkrik disetiap sekat pembicaraan sang dewa.
Membuat sang dewa leluasa berbuat semaunya pada kita.
Apa kau tidak merasa terhina?

Hanya bisa tertawa ketika sang dewa menyindir kita.
Hanya bisa diam ketika sang dewa membanding-bandingkan kita.
Hanya bisa menunduk ketika sang dewa mengucilkan kita.


****

Komunitas Tjimahi Heritage Wadah Para Pecinta Sejarah di Kota Cimahi

Komunitas Tjimahi Heritage Wadah Para Pecinta Sejarah di Kota Cimahi
Hendro Kartika Juniawan[1]

Foto Bersama Anggota-anggota Komunitas Tjimahi Heritage

Kegiatan Jelajah dan Diskusi Komunitas Tjimahi Heritage

Komunitas merupakan ajang aktualisasi diri, menjadi media untuk berekspresi dan mengembangkan jati diri. Sehingga tak ayal, pada saat ini komunitas banyak dicari dan digandrungi oleh pemuda dan pemudi, sebagai alternatif membangun hobi. Komunitas Tjimahi Heritage salah satunya, merupakan komunitas local yang ber-genre Travel of History, mengeksplorasi dan menjelajahi bangunan-bangunan tua bersejarah yang ada di Kota Cimahi.

Cimahi, siapa yang tak mengenal kota yang satu ini, kota yang dijuluki “Kota Militer” ini memiliki segudang cerita dan kisah lama disetiap jengkal bangunan kotanya yang sangat menarik untuk dapat kita telusuri. Komunitas Tjimahi Heritage dapat menjadi salah satu media untuk menggali dan menelusuri keunikan kota ini, dengan kegiatannya “Tjimahi Heritage Trial” dan “Ngampar Samak” akan menjadi media dalam mengeksplorasi sejarah “Kota Tentara” yang satu ini.
Tujuan dibentuknya komunitas yang berdiri sejak 5 April 2015 ini yaitu “sebagai wadah yang mengedukasi dan menampung masyarakat untuk mengenal lebih jauh mengenai wawasan kesejarahan kota Cimahi”, ujar Kang Rajib salah satu anggota Komunitas Tjimahi Heritage saat diwawancarai sepulang kuliah di selasar Mesjid Iqomah UIN SGD Bandung (Senin, 20/3/2018). Komunitas ini juga cukup terbuka, siapapun bisa bergabung, hanya dengan mengikuti event yang diselenggarakan.
Komunitas jelajah ini telah banyak menyelenggarakan kegiatan, “hampir setiap bulan kami mengadakan jelajah-jelajah, tidak hanya bangunan tua, tapi juga tempat-tempat lain yang memiliki nilai sejarah dan budaya di Cimahi, seperti Makam dan Pesantren di Padasuka, Baros, Leuwigajah. Kemudaian juga kita mengadakan suatu diskusi sebagai kegiatan kita yang biasanya kita gelar di setiap akhir bulan, yang merupakan kegiatan khas kita dengan nama “Ngampar Samak, ujar Kang Machmud ketua Komunitas Tjimahi Heritage saat diwawancarai di kediamannya di daerah Babakansari Kota Cimahi (Minggu, 18/3/2018).
Komunitas Tjimahi Heritage ini hadir sebagai sarana dan media bagi masyarakat, khususnya pemuda yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai kesejarahan Kota Tjimahi. Menurut pandangan Kang Rajib, “pemuda bagi saya sebagai creator suatu peradaban, harus senantiasa dinamis dalam kehidupan, salah satunya dalam menelusuri sejarah-sejarah daerah kalian, kalian harus melek sejarah…, apa yang dipijak kalian, kalian harus tahu dan paham, sebab ketika kalian tahu, kalian akan bijak dalam menghadapi masa sekarang dan masa mendatang.



[1] Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Email : h3ndro26@gmail.com, @Jurnalistiksejarah.

Selasa, 06 Februari 2018

NASIONALISME : GERBANG MENUJU KEMERDEKAAN ATAU PENGOYAK PERSATUAN UMAT?



Nasionalisme : Gerbang Menuju Kemerdekaan atau Pengoyak Persatuan Umat?
Hendro Juniawan[1]

Abstrak : Nasionalisme secara umum merupakan respon yang di dapatkan oleh umat Islam terhadap Imperialisme yang dilakukan oleh Barat di negara-negara Muslim. Hal ini tentu menjadi positif bila dilihat dari aspek perlawanan atas Barat guna membebaskan diri dari yang namanya Kolonialisme dan Imperialisme, hingga berujung membawa kepada kemerdekaan. Namun, siapa sangka Nasionalisme sendiri merupakan paham yang sengaja di tebarkan Barat kepada umat Muslim lewat media Imperialisme yang mereka lakukan. Sehingga dapat dikatakan bahwa, Nasionalisme merupakan paham yang diperkenalkan Barat guna mengoyak kesatuan umat Islam di negeri-negeri Muslim, yang pada awalnya terakumulasi dalam kesatuan umat Islam dibawah kekuasaan Turki Utsmani.
Kata Kunci : Nasionalisme, Imperialisme, Islam, Turki Utsmani.

Keadaan dunia Islam pada abad ke-19 M merupakan manifestasi kesadaran baru bagi masyarakat Muslim. Namun, seiring dengan kemunduran yang dialami, satu demi satu negeri-negeri Islam yang sedang rapuh jatuh ke tangan Barat dan berada dalam kekuasaan Imperialisme Barat. Kemudian, dalam waktu yang tidak lama, kerajaan-kerajaan besar Eropa sudah berhasil menguasai dan membagi-bagi seluruh dunia Islam (Badri Yatim, 2014 : 181). Selain menguasai, mereka juga mengobrak-abrik kesatuan umat Islam yang sebelumnya terakumulasi dan berada dibawah kekuasaan Turki Utsmani. Dan seiring dengan menggeliatnya Imperialisme yang dilancarkan Barat, semakin memberikan tekanan dan perhatian penuh umat Muslim untuk menghentikan Imperialisme Barat atas dasar kebangsaan dan kemerdekaan. Kemudian, disaat itulah muncul apa yang disebut sebagai Nasionalisme, yang kemudian pada perkembangan selanjutnya, menjadi gerbang awal, sarana dan bagian paling penting yang menghantarkan Umat Islam kepada Kemerdekaannya atas kekangan Imperialisme sebelumnya.
Nasionalisme pada awalnya merupakan produk modernitas pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 di Eropa, yang merupakan salah satu paham yang berpengaruh luas dewasa ini. Kenyataan ini juga terjadi pada negera-negara Muslim di Timur Tengah, dimana kesatuan ideologi keagamaan yang sebelumnya menguasai dunia Islam telah tersingkir oleh kesatuan elemen-elemen sosial seperti bahasa, kesamaan sejarah, identitas dan solidaritas sosial yang berpengaruh dalam kesatuan politik suatu bangsa (M. Ariful Ashaf, 2016 : 226). Pada perkembangan awalnya, Nasionalisme sendiri menuai banyak tentangan dari pemuka-pemuka Islam, karena dipandang tidak sejalan dengan semangat Ukhwah Islamiah (Badri Yatim, 2014 : 187), namun, seiring dengan tekanan Imperialisme, maka Nasionalisme menjadi alternatif pilihan paling akhir sebagai media dalam merespon Imperialisme, terlebih setelah hilangnya semangat Pan-Islamisme di perkembangan sebelumnya.
Perlu diketahui, sebenarnya seiring dengan menggeliatnya Imperialisme dan Nasionalisme sebagai responnya, ini menjadikan Nasionalisme sebagai saingan paling sengit bagi Ideologi Islam, dimana sebelumnya umat Islam bersandar kepada Ideologi Islam dengan berdasarkan kepada persatuan Umat Islam (Ukhwah Islamiah dan aqidah Islam), sedangkan setelah munculnya Nasionalisme ini beralih kepada persatuan bangsa berdasarkan atas elemen-elemen sosial yang ada. Hal ini menjadi sangat ironis, karena Nasionalisme sendiri menjadi aset paling berharga bagi Barat untuk mengoyak kesatuan umat Islam, hal ini dapat dilihat dimana Nasionalisme, dijadikan sebuah alat untuk memecah belah kekuasaan Turki Utsmani pada saat itu. Nasionalisme ditebarkan oleh barat kepada bangsa-bangsa dibawah kekuasaan Turki Utsmani untuk mempermudah dan memperlancar geliat Imperlisme, mereka berusaha memutus hubungan antara negari-negeri bawahan Turki Utsmani dengan iming-iming kemerdekaan yang dihasilkan dari Nasionalisme (Tim Riset dan Studi Islam Mesir, 2013 : 294).
Nasionalisme merupakan konsep yang baru bagi dunia Islam, karena tidak mendasarkan kepada unsur-unsur keagamaan, sehingga ada yang berpendapat bahwa nasionalisme adalah produk yang diimpor dan sengaja diekspor oleh para penguasa kolonial yakni Barat untuk mengacaukan persatuan di dunia Islam (Ajat Sudrajat : 6). Dimana, tujuan akhir dari Nasionalisme sendiri adalah terbentuknya negara nasional (national-state) bukan negara dunia (world-state) (Dedi Supriyadi, 2008 : 269-270), sehingga akhirnya dunia Islam terbagi ke dalam negara-negara nasional yang didasarkan kepada elemen dan faktor kesejarahan, kebudayaan, etnis, atau bahasa, bukan atas dasar kesatuan agama yaitu agama Islam (Ajat Sudrajat : 1).
Namun, terlepas dari segala isu awal yang mewarnai kemunculannya, Nasionalisme memiliki beberapa peran yang cukup signifikan dalam membendung geliat Imperialisme Barat atas Dunia Islam, sehingga menghantarkan kepada Kemerdekaan wilayah, bangsa, dan negeri Muslim. Namun, seiring dengan perkembangannya yang menjadi respon atas Imperialisme serta melahirkan kemerdekaan bagi negeri muslim yang terjajah, harga yang dibayar sangatlah mahal dalam hal ini. Dimana, ketika umat Islam menerima Nasionalisme, maka mereka telah membuang yang namanya Ideologi persatuan Islam (Ukhwah Islamiah dan aqidah Islam), dimana hingga hari ini, dunia Islam sudah terkotak-kotak dengan latar belakang tersendiri yaitu berdasarkan bahasa, kesamaan sejarah, identitas dan solidaritas sosial, bukan atas dasar persatuan umat Islam (Ukhwah Islamiah dan aqidah Islam) lagi.
Diluar dari pertentangan itu, apakah Nasionalisme merupakan gerbang menuju kemerdekaan atau pengoyak persatuan umat, yang disandarkan kepada Nasionalisme dijadikan sebuah aset paling berharga bagi Barat untuk memecah belah kekuasaan Turki Utsmani, itu mungkin menjadi sebuah pilihan paling bijak dan merupakan respon dari Jiwa zamannya (zeitgest) tersendiri pada saat itu, dimana, tidak ada pilihan lain demi kemaslahatan umat. Yang terpenting, karena Nasionalisme menjadi pilihan umat Islam dalam mempertahankan eksistensinya pada waktu itu, maka, kita pun sebagai generasi muda setelahnya harus menghormati pilihan itu. Maka dari itu, penulis mengajak kepada seluruh umat Islam, Mari!, kita rawat Nasionalisme dan jadikan sebagai amanah tersendiri dar pendahulu kita, bagi kita sebagai umat Islam setelahnya.

KESIMPULAN
Seiring dengan munculnya geliat Imperialisme yang dilakukan oleh Barat terhadap Dunia Islam, Nasiolisme menjadi respon atas itu semua dan menghantarkan negeri-negeri Islam kepada kebebasan atas Imperialisme dan kemerdekaan. Namun, diluar dari keberhasilannya menjadi pembendung dan antitesan terhadap Imperialisme, Nasionalisme sendiri, mendapat berbagai tentangan dari pemuka-pemuka Islam yang dipandang tidak sejalan dengan semangat Ukhwah Islamiah. Bahkan, Nasionalisme dianggap sebagai produk yang diimpor dan sengaja diekspor oleh para penguasa kolonial yakni Barat untuk mengacaukan persatuan di dunia Islam, terkhusus pada saat itu terhadap kekuasaan Turki Utsmani. Sehingga, hal itu menghasilkan berbagai opini dan tanggapan bahwa, “apakah Nasionalisme itu berperan sebagai gerbang menuju kemerdekaan ataukah pengoyak persatuan umat Islam”.

DAFTAR PUSTAKA
Ashaf, M. Arifullah. 2016. “Akar Epistemik Hegemoni Politik Barat Terhadap Nasionalisme di Timur Tengah”. Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan : Jambi.
Sudrajat, Ajat. “Nasionalisme di Dunia Islam”. Prodi Ilmu Sejarah : Universitas Negeri Yogyakarta.
Supriadi, Dedi. 2008. “Sejarah Peradaban Islam”. Pustaka Setia : Bandung.
Tim Riset dan Studi Islam Mesir, 2013, “Ensiklopedia Sejarah Islam”. Pustaka al-Kautsar : Jakarta.
Yatim, Badri. 2014. “Sejarah Peradaban Islam II”. Rajawali Pers : Jakarta.









[1] Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Email : h3ndro26@gmail.com, @SejarahperadabanIslammodern