Jumat, 03 Juli 2020

HISTORIOGRAFI ISLAM

Historiografi Arab Pra-Islam

Pengertian sejarah secara bahasa (etimologi) berasal dari kata syajarah dari bahasa Arab, yang berarti “pohon kehidupan, akar, keturunan, dan asal-usul.” Dinamakan demikian karena pada awal perkembangannya sejarah pada masa klasik, berfokus untuk menelusuri asal-usul dan genelogi yaitu nasab atau keturunan. (Badri Yatim, 1997: 27-29) Dalam bahasa Yunani, berasal dari kata historia yang berarti orang pandai atau penelitian, kemudian ada history dalam bahasa Inggris yang artinya events in the past atau (peristiwa masa lalu). (Sulasman, 2014: 15-16)

Secara istilah (terminology), sejarah merupakan peristiwa penting yang terjadi dimasa lalu yang dilakukan oleh manusia atau rekonstruksi masa lalu secara singkatnya. Sedang secara menyeluruh dapat kita simpulkan bahwa Sejarah tidak terlepas dari kata peristiwa, umat manusia, dan masa lalu.

Penulisan sejarah atau historiografi pada masa Arab Pra-Islam, diwarnai dengan tradisi yang menyerupai sejarah lisan, yang dikenal dengan al-Ayyam dan al-Anshab. keduanya mewarnai corak historiografi masa setelahnya, terutama Historiografi Islam.

a.       Ayyam al-Arab

Al-Ayyam disebut juga hari-hari penting atau peperangan, masyarakat Arab mengabadikan peristiwa penting mereka yang sebagian besar merupakan peristiwa perang kedalam sebuah syair atau prosa. Beberapa peristiwa penting yang tercatat, seperti: Perang al-Basus (5M), Dahis, al-Ghabra, dan Yawm Fujjar (terjadi pada bulan-bulan haram). (Badri Yatim, 1997: 29-30)

Perlu kita ketahui bahwa seiring berjalannya waktu hingga Islam hadir di tanah Arab dan mengawali kebangkitannya, tradisi Al-Ayyam ini masih tetap berlangsung dan banyak mempengaruhi langgam penulisan sejarah Islam pada masa berikutnya. Hal ini senada dengan pendapat para ahli sejarah Islam yang sepakat bahwa istilah “ilm al-tarikh” atau historiografi Islam, betul-betul berangkat dan berakar dari tradisi khabar yang biasa berkembang di kalangan masyarakat Arab sebelum Islam, atau yang biasa dikenal ayyam al-Arab, yakni cerita peristiwa (peperangan) suku-suku mereka bangsa Arab. (Ajid Thohir, 2012: 432)

b.      Al-Anshab

Bentuk tradisi Arab pra-Islam yang mengandung informasi sejarah lainnya adalah al-anshab (silsilah atau genelogi). Sejak masa jahiliyah masyarakat Arab sangat memperhatikan dan memelihara pengetahuan mengenai nasab (garis keturunan). Nasab juga pada masyarakat Arab pra-Islam dikaitkan dengan syair, dimana topik-topik utama syair pada saat itu berkaitan dengan masalah nasab. (Badri Yatim, 1997: 37-38)

Hapalan terhadap nasab pada masyarakat Arab, sesuadah Islam datang, mempunyai kedudukan tersendiri dalam sejarah, sehingga perhatian masyarakat Arab terhadap kajian genelogi ini terus berlanjut hingga Islam datang. Bahkan, tradisi Al-Ansab ini setelah hadirnya Islam menjadi cikal-bakal dalam mengembangkan tradisi ketokohan seseorang. Karena salah satu keberadaan status sosial seseorang terletak pada garis keturunannya. Tradisi penulisan Al-Ansab ini, kelak akan memberikan pengaruh dalam membentuk jalur-jalur genelogi keilmuan atau sanad-sanad keilmuan serta telah menunjang bagi pola penulisan biografi dan hagiografi dalam sejarah Islam. (Ajid Thohir, 2012: 436)

Minggu, 17 Mei 2020

MERAIH KEGEMILANGAN MELALUI PENDIDIKAN


“Meraih Kegemilangan Melaui Pendidikan”
(Refleksi Sejarah Untuk Meraih Esensi Pentingnya Pendidikan)

Bismillah...
Seiring berjalannya waktu, hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, dan zaman demi zaman, peradaban semakin maju dan hidup menjadi semakin sulit, tantangan serta daya saing pun semakin tinggi. Modal utama yang patut untuk dimiliki di zaman yang demikian kompleks dengan modernitasnya yang tinggi ini adalah pendidikan (education), kemampuan (skill), dan pengetahuanlah (knowledge) yang menjadi aspek penentu bagi keberhasilan dimasa mendatang.
Pendidikan merupakan sarana yang cukup sentral untuk mengasah kemampuan serta pengetahuan intelektual diri, dimana selama mengenyam bangku pendidikan, akan banyak sekali hal yang akan kita dapatkan yang tentunya tidak akan kita dapatkan di luar institusi pendidikan. Maka, sudah sepantasnya kita berfikir bahwa pendidikan itu amatlah penting terutama dalam menjalani kehidupan, sebagai mana yang diungkapkan oleh Daoed Joesoef (LPPKS), bahwa “pendidikan merupakan segala bidang penghidupan, dalam memilih dan membina hidup yang baik, yang sesuai dengan martabat manusia.
Dalam catatan sejarah, pendidikan menjadi salah satu aspek terpenting bagi penunjang kemajuan dan kejayaan suatu bangsa dan peradaban, hari ini 1.200 tahun yang lalu umat Islam telah membuktikannya, dimana dengan dukungan penuh terhadap kemajuan intelektual dan pendidikan, umat Islam telah merajut sejarah kegemilangannya sebagai suatu bangsa yang maju dan berkebudayaan tinggi, dimana yang kita kenal dengan masa keemasan atau kegemilangan (The Golden Age). Bagi umat Islam, pentingnya pendidikan dan pengetahuan bukanlah sesuatu yang baru, bahkan “mencari ilmu dan pengetahuan hukumnya wajib bagi seorang muslim”, karena Islam sebagai agama dan system atau jalan hidup (way of life) telah memberikan motivasi yang sangat jelas bagi setiap pemeluknya agar berkarya untuk mencapai kemajuan dan kejayaan, kemajuan dan kejayaan itu tidak mungkin dapat di capai begitu saja tanpa wawasan dan ilmu pengetahuan yang memadai, sedangkan wawasan dan ilmu pengetahuan tentunya tidak akan mungkin bisa diperoleh tanpa proses pendidikan.
Agama Islam melalui Rasulullah telah menjelaskan betapa pentingnya menuntut ilmu dan belajar yang tentunya dapat di raih melalui sarana pendidikan, seagaimana hadis Rasulullah yang berbunyi “tuntutlah ilmu mulai dari buaian hingga liang lahat” (HR. Bukhori). Nabi juga menyatakan bahwa “tinta seorang sarjana (penuntut ilmu) lebih suci dari pada darah syuhada”, bahkan salah satu yang kelak akan mendapatkan syafaat pada hari akhir (HR. Ibn Majah).
Betapa pentingnya pendidikan saat ini, tanpa perjuangan pendidikan mungkin kita tidak akan dapat merdeka untuk saat ini, karena sebagian besar keberhasilan menuju kemerdekaan adalah pendidikan yang dapat menghasilkan pemuda-pemudi yang kritis, idealis, dan berwawasan luas. Setiap 2 Mei kita telah biasa memperingati hari Pendidikan Nasional, yang dinisbatkan kepada tokoh pelopor pendidikan  nasional Indonesia yaitu Ki Hajar Dewantara atau Raden Mas Soewardi Suryadiningrat yang tepat lahir pada 2 Mei 1889. Dengan alur pembuktian sejarah yang sedemikian terang, maka sudah jelas dapat kita simpulkan bahwa pendidikan amatlah penting, terutama bagi kita sebagai pemuda-pemudi Indonesia, karena jika pendidikan tidak begitu penting dan tidak dapat membawa perubahan besar, mengapa dahulu tokoh-tokoh pendidikan nasional bangsa kita sampai mati-matian memperjuangkan hak untuk mengenyam pendidikan, seperti R.A. Kartini, Dewi Sartika, K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Ahmad Dahlan, dan masih banyak tokoh lainnya.
Wallahu a'lam...
Foto ketika KKN di Desa Rawabogo, Ciwidey dahulu.

Jumat, 15 Mei 2020

MINI RISET: BIOGRAFI ABDURRAUF SINGKEL


MINI RISET : BIOGRAFI ABDURRAUF SINGKEL

ABSTRAK

‘Abd al-Ra’uf bin Ali al-Jawi al-Fansuri al-Sinkili merupakan salah satu ulama terkemuka asal Aceh yang mewarnai perkembangan Islam di Nusantara-Melayu pada abad ke-7 M. Beliau lahir pada tahun 1615 M di Sinkil, Aceh, sedang Ayah beliau bernama Syekh Ali Fansuri, yang telah lama tinggal dan menetap di daerah Fanshur (Barus). Dari ayahnya lah al-Sinkili memulai pendidikan pertamanya dalam mempelajari ajaran dan ilmu keislaman, yang kemudian melanjutkannya ke Fanshur, lalu dari Fanshur beliau memulai rihlah ilmiah-nya ke Arabia selama 19 tahun. Kemudian, pasca kepulangannya dari Arabia pada tahun 1662 M beliau turut mewarnai geliat keislaman sebagai Ulama terkemuka dan perpolitikan di Aceh dengan menjadi seorang Qadhi Istana Kesultanan Aceh. Beliau pula banyak menghasilkan karya dan pemikirannya bagi perkembangan Islam, salah satunya Tarjuman Al-Mastafiid, Miratuth Thullab, Al Mawaa’zh Al Badii’ah dan lainnya. Dapat terlihat bahwa betapa besar peran dan pengaruh al-Sinkili dalam berbagai bidang bagi perkembangan Islam di Nusantara terkhusus Aceh, namun, batasan penelitian penulis pada mini riset ini berfokus pada pemikiran al-Sinkili dengan judul “Biografi Intelektual ‘Abd al-Ra’uf al-Sinkili”.
Ada tiga permasalahan dan tujuan yang ingin digali dan dicapai dalam penelitian ini, yaitu pertama, membahas mengenai riwayat hidup al-Sinkili, kedua, membahas mengenai karya-karya al-Sinkili secara historis baik kronologis maupun klasifikasi karya beliau, ketiga, membahas mengenai pemikiran-pemikiran al-Sinkili yang begitu banyak berperan dan memberikan pengaruh bagi masyarakat atau muslim Aceh dan murid-muridnya dalam Tarekat Syathariyah.
Dalam penelitiannya, secara metodologis penelitian ini mengikuti prosedural penelitan sejarah yang meliputi berbagai tahap dari mulai heuristik (pengumpulan sumber) baik melalui hasil penelitian filologi mengenai karya al-Sinkili, serta berbagai sumber-sumber penunjang lain selama tahap heuristik berlangsung, kemudian setelah terkumpul sumber kemudian di kritik, kemudian memasuki tahap interpretasi (penafsiran atas sumber), dan dirampungkannya melalui tahap historiografi (penulisan karya sejarah).
Hasil penelitian ini menunjukan betapa besarnya peran al-Sinkili beserta pengaruhnya bagi geliat perkembangan Islam di Nusantara khususnya Aceh, betapa mempuninya kapasitas intelektual keilmuannya, dan betapa luas pemikiran-pemikirannya yang terakumulasi dan termanifestasi dalam karya-karyanya yang cukup monumental dan historis. Dimana pemikiran-pemikiran al-Sinkili yang cukup penting adalah meliputi rekonsiliasi tasawuf dan syariah, ketuhanan dan alam, insan kamil, serta tarekat yaitu Tarekat Syathariyah.


Untuk membacanya lebih lanjut: https://uinsgd.academia.edu/Hendrokartika

brainly.co.id

AKTIVITAS DAKWAH K.H. MUHAMMAD YAHYA DI CIMAHI TAHUN 1947-2009



Aktivitas Dakwah K.H. Muhammad Yahya di Cimahi Tahun 1947-2009

Hendro Kartika J, Ajid Thohir
Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

Abstract

K.H. Muhammad Yahya (commonly known as Abuya Sepuh or Abuya Mamad) is an Islamic scholar from Cimahi. He is a Da'i, Murshid Tariqah, and also a Judge in the Religious Courts. He was the founder of Pesantren Darussurur Cimahi, and extensively wrote Sundanese nadhom, and participated in spreading the Islamic da'wah in the City of Cimahi. He contributed to education, social, religion, and Islamic da’wah. This study aims at finding out the biography of K.H. Muhammad Yahya and his Da'wah Activities in Cimahi. The method used is a historical research method which consists of four stages, namely heuristics, criticism, interpretation, and historiography. Based on the results of the study, it can be concluded that, first, K.H. Muhammad Yahya was born in 1917 and died in 2009 in the Main Village, Cimahi. He is the son of K.H. Muhammad Azhari and Hj. Khadijah, his nasab through his father reached Maulana Syarif Hidayatullah. His educational genelogy was formed from the environment and education he got from various teachers, such as Habib Ali al-Attas (Jakarta), Habib Abdullah Bilfaqih (Malang), Muhaddist Assayid Alwi bin Abbas al-Malik (Mecca), K.H. M. Kurdi (Cibabat), K.H. M. Zarkasyi (Cibaduyut). Second, the da'wah activities K.H. Muhammad Yahya in Cimahi covers several aspects and media, namely da’wah through educational institutions with the establishment of pesantren Darussurur (1947-2009), da’wah through religious teachings (1947-2009), da’wah through Tariqah (TQN) (1960s), and da’wah through writing (1979-2009), in which he wrote and translated Arabic books composed in the form of Sundanese nadhom, such as Nadhom Shoibul Iman, Aqidatul awam, Lawang Setan, and many others.


Keywords: Ulama Biography, Educational Geneology, Da'wah Activity, Ahlussunnah wal Jama'ah, Cimahi

Abstrak

K.H. Muhammad Yahya (Abuya Sepuh atau Abuya Mamad) merupakan ulama yang berasal dari Cimahi. Beliau merupakan seorang Da’I, Mursyid Thariqah, dan juga Hakim di Pengadilan Agama. Beliau merupakan pendiri Pondok Pesantren Darussurur Cimahi, dan banyak menulis nadhom-nadhom Sunda, serta turut serta dalam mewarnai percaturan dakwah Islam di Kota Cimahi. Kontribusi beliau meliputi aspek pendidikan, sosial, keagamaan, dan dakwah keislaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana biografi K.H. Muhammad Yahya dan Aktivitas Dakwah beliau di Cimahi. Metode yang digunakan ialah metode penelitian sejarah yang terdiri dari empat tahapan, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa, pertama, K.H. Muhammad Yahya lahir pada tahun 1917 dan meninggal pada tahun 2009 di Desa Utama, Cimahi. Beliau merupakan anak dari K.H. Muhammad Azhari dan Hj. Khadijah, nasab beliau melalui ayahnya sampai pada Maulana Syarif Hidayatullah. Genelogi keilmuan beliau terbentuk dari lingkungan dan pendidikan yang beliau lalui dari berbagai guru, seperti Habib Ali al-Attas (Jakarta), Habib Abdullah Bilfaqih (Malang), Muhaddist Assayid Alwi bin Abbas al-Malik (Mekah), K.H. M. Kurdi (Cibabat), K.H. M. Zarkasyi (Cibaduyut). Kedua, Aktivitas dakwah K.H. Muhammad Yahya di Cimahi meliputi beberapa aspek dan media yaitu dakwah melalui lembaga pendidikan, dengan didirikannya Pondok Pesantren Darussurur (1947-2009), dakwah melalui ceramah keagamaan (1947-2009), dakwah melalui thariqah (TQN) (1960-an), dan dakwah melalui tulisan (1979-2009), dimana beliau banyak menulis dan menerjemahkan kitab-kitab berbahasa Arab, digubah kedalam nadhom-nadhom Sunda, seperti Nadhom Shoibul Iman, Aqidatul Awam, Lawang Setan, dan lainnya.

Kata Kunci: Biografi Ulama, Sanad Keilmuan, Aktivitas Da'wah, Ahlussunnah wal Jama'ah, Cimahi



K.H. Muhammad Yahya

Makam K.H. Muhammad Yahya

Untuk membacanya lebih lanjut: https://uinsgd.academia.edu/Hendrokartika

Rabu, 03 Oktober 2018

SANG PEMIMPI

SANG PEMIMPI

Oleh :
H. Saefullah
(Bandung, 8 Agustus 2018)




Pelita menerangi pertengahan malam
Semburatnya menjalar ke setiap sisi yang tak terhijab oleh materi
Di bawah naungannya, Sang Pemimpi masih asyik dengan rutinitas malam
Mengarungi samudra lelap penuh fatamorgana, diujung ombak realitas hidup

             Ketika malam mulai beranjak pada puncak eksistensinya
             Dimana ketika dzatnya termanifestasikan pada gelap dan pekatnya
             Sang pemimpi hampir terjaga dari tidurnya
             Namun ketika ia beranjak, mimpi menjegal jiwa untuk tetap lelap dalam tidurnya

Mimpi merupakan angan yang terpisah dari realitasnya
Memaksa keluar dari persepsi tuannya
Kemudian memanjat benteng kesadaran dan melompat
Menemui jiwa, untuk bermalam bersamanya

             Tak semua jiwa, mampu untuk berdamai dengan mimpinya
             Namun, semua mimpi merupakan persepsi jiwanya
             Terkadang, ia memilih menamfikannya
             Kadang juga menjabat tangannya
                                                         
Dalam mimpi kau dapat menjadi ini
Dalam mimpi kau dapat menjadi itu
Dalam mimpi kau juga dapat menjadi apapun dan siapapun

             Tidak sulit untuk menjadi orang lain dalam mimpimu
             Namun sangat sulit untuk menjadi tetap dirimu dalam mimpimu
             Hanya Sang Pemimpi yang dapat melakukannya
****

AMBISI

AMBISI

Oleh :
H. Saefullah
(Bandung, 1 Muharam 1440 H)


Foto: de_j@vu

Ambisi menyeret harapan keluar dari angan
Menyuapinya dengan sebulir mimpi dan secangkir keyakinan
Dengan di bubuhi taburan semangat keteguhan
Dan, adukan ke egoisan

Dia membawanya melintasi lautan harapan
Menerjang gelombang keterbatasan
Hingga, terdampar di pulau kenyataan
Pingsan dan tak sadarkan

Ia menyiramnya dengan segenggam air ketidak berdayaan
Hingga terbangun dari lelapnya keukhrowian
Kembali pada realitas keduniawian
Terpesona akan kebijaksanaan kehidupan

Ia sadar akan batasan
Ia sadar akan ketidak mampuan
Ia sadar akan ke egoisan

Namun, ambisi tidak pernah lelah
Tak pernah lelah akan kegagalan
Tak pernah lari dari kenyataan 

Ia bak energi yang mengalir pada angan
Membawa harapan pada ujung penantian


***

Kawan, Mengapa Begini Kita?

Kawan, Mengapa Begini Kita?[1]




[1] Dunia Literasi, Kawan, Mengapa Begini Kita?, diakses melalui http://dunialiterasi.co.id/, Pada 10/03/2018, Pukul 10.20 WIB.

Oleh :
H. Saefullah
(Bandung, 26 Oktober 2017)


Foto: static.wixstatic.com

Kawan, sudah setengahnya lebih perjalanan pendidikan kita.
Sudah berkali-kali kita berjumpa bersama.
Kita berjumpa di ruangan dimana kita menuai lentera pengetahuan.
Ruangan yang kita anggap sakral penuh harapan.

Kawan, apa kau tahu makna dari apa kita dipertemukan.
Dipertemukan dengan segala macam perbedaan.
Perbedaan pemahaman, keraguan, kenistaan, dan penderitaan.
Kita dipertemukan dengan perbedaan harapan dan tujuan.

Kawan, apa kau tahu betapa sulitnya kita bisa dipertemukan bersama.
Dipertemukan di sebuah tempat dengan harapan keniscayaan.
Yang kata orang tempat bagi kaum berpendidikan.
Yang kata orang tempat bertaruh bagi kehormatan dan kedudukan.

Tapi kawan, apa kau tahu, berapa peluang yang coba kami dapatkan.
Berapa pengorbanan yang harus kami pertaruhkan.
Berapa kegelisahan yang harus kami rasakan.
Hanya untuk bisa mendapatkan tempat terbaik dalam menentukan masa depan.

Kawan, apa kau sanggup membunuh segala harapan.
Harapan yang mutlak kami dapatkan.
Bahkan sang esa pun kami duakan.
Hanya untuk menyelesaikan tugas dan urusan yang dibebankan.

Kawan, sudah lama kita saling mengenal.
Mengenal nama dan kampung halaman.
Kita berbincang mengenai harapan.
Harapan hari esok yang mungkin tak ter-realisasikan.

kawan, apa kau tahu apa yang aku rasakan.
Merasa lelah, muak, marah, dalam kesendirian.
Sungguh miris melihat keadaan.
Keadaan kita yang tak sesuai kenyataan.

Kawan, katanya kita saling berteman.
Katanya kita berteman dalam peradaban.
Tapi apa kenyataan yang memuakkan.
Ketika kami duduk di depan kau pecundangkan.

Kawan, bisakah kau buang semua yang kau pakai di dalam ruangan.
Ruangan dimana kita saling bertatapan.
Dimana tak ada simbol ketika kita saling bertukar pikiran.
Bertukar pikiran dengan sehat dan penuh toleran.
Sehingga kita bisa melangkah bersama menuju masa depan.

Kawan, jangan anggap kami bodoh, karena kami tidak tahu apa-apa.
Jangan anggap kami berbeda, kerena kami tidak dari asal yang sama.
Tapi anggap lah kami seperti seorang saudara.
saudara yang akan menemani suka dan duka.

Kawan, apa ini hanya terjadi pada kita.
Ntah atmosfir apa yang mempengaruhi kita.
Sehingga kita menjadi seperti burung hantu yang buta.
Buta akan segala hal didekat kita.

Kawan, ketika kami duduk di depan, berilah sambutan yang istimewa.
Sambutan yang melegakan dan menenangkan jiwa.
Jangan acuhkan kami seperti sampah yang tak berguna.
Yang kami ingin, hanya perhatian dan kerjasama diantara kita.

Kawan, apa kau tahu apa yang salah pada diri kita.
Yaitu membuat mati teman yang duduk di depan kita.
Membuatnya resah gundah gulana.
Membuatnya merasa frustrasi dan putus asa.

Kawan, sudah kulihat hampir disetiap pertemuan kita.
Tidak ada penghargaan yang kau berikan pada sesama.
Ketika kami gelagapan mencari kata-kata, kau malah asyik tertawa.
Ketika kami salah, kau malah mencibir dan menghina.

Kawan, sudah kulihat hampir setiap pertemuan kita.
Ketika kami berbicara, kau malah asik bercanda.
Ketika kami berbicara, kau malah asik diskusi mendua.
Ketika kami berbicara, kau malah asik tidur tanpa menghiraukan sesama.

Kawan, kau anggap kami ini apa?
Radio butut yang memekakan telinga?
Sampah plastik yang kau anggap hina?
Atau, koran lama yang tidak bermakna?

Kawan, sudah kulihat hampir di setiap pertemuan kita.
Tak ada persahabatan diantara kita.
Sepertinya kita bukan saudara.
Jika memang saudara, mengapa kau buat kami merasa terhina.

Kawan, kau anggap kami ini hiburan belaka.
Kami berbicara, kau ribut sejadi-jadinya.
Ketika kami selesai bicara, kau diam seribu bahasa.
Ketika sang dewa datang, kau seperti kerbau yang tak berdosa.
Pura-pura memperhatikan kami yang sudah kau hina.
Akhirnya kami merasa sakit dan terluka.

Kawan, akan kah kita seperti ini sampai saatnya kita berpisah.
Akan kah kita seperti pengemis yang nestapa.
Melihat sang dewa berbicara mengenai jagadraya.
Kita hanya berpura-pura memahaminya.

Kawan, apa kau tidak merasa sepi di ruangan kita.
Hanya ada suara jangkrik disetiap sekat pembicaraan sang dewa.
Membuat sang dewa leluasa berbuat semaunya pada kita.
Apa kau tidak merasa terhina?

Hanya bisa tertawa ketika sang dewa menyindir kita.
Hanya bisa diam ketika sang dewa membanding-bandingkan kita.
Hanya bisa menunduk ketika sang dewa mengucilkan kita.


****