Rabu, 03 Oktober 2018

Kawan, Mengapa Begini Kita?

Kawan, Mengapa Begini Kita?[1]




[1] Dunia Literasi, Kawan, Mengapa Begini Kita?, diakses melalui http://dunialiterasi.co.id/, Pada 10/03/2018, Pukul 10.20 WIB.

Oleh :
H. Saefullah
(Bandung, 26 Oktober 2017)


Foto: static.wixstatic.com

Kawan, sudah setengahnya lebih perjalanan pendidikan kita.
Sudah berkali-kali kita berjumpa bersama.
Kita berjumpa di ruangan dimana kita menuai lentera pengetahuan.
Ruangan yang kita anggap sakral penuh harapan.

Kawan, apa kau tahu makna dari apa kita dipertemukan.
Dipertemukan dengan segala macam perbedaan.
Perbedaan pemahaman, keraguan, kenistaan, dan penderitaan.
Kita dipertemukan dengan perbedaan harapan dan tujuan.

Kawan, apa kau tahu betapa sulitnya kita bisa dipertemukan bersama.
Dipertemukan di sebuah tempat dengan harapan keniscayaan.
Yang kata orang tempat bagi kaum berpendidikan.
Yang kata orang tempat bertaruh bagi kehormatan dan kedudukan.

Tapi kawan, apa kau tahu, berapa peluang yang coba kami dapatkan.
Berapa pengorbanan yang harus kami pertaruhkan.
Berapa kegelisahan yang harus kami rasakan.
Hanya untuk bisa mendapatkan tempat terbaik dalam menentukan masa depan.

Kawan, apa kau sanggup membunuh segala harapan.
Harapan yang mutlak kami dapatkan.
Bahkan sang esa pun kami duakan.
Hanya untuk menyelesaikan tugas dan urusan yang dibebankan.

Kawan, sudah lama kita saling mengenal.
Mengenal nama dan kampung halaman.
Kita berbincang mengenai harapan.
Harapan hari esok yang mungkin tak ter-realisasikan.

kawan, apa kau tahu apa yang aku rasakan.
Merasa lelah, muak, marah, dalam kesendirian.
Sungguh miris melihat keadaan.
Keadaan kita yang tak sesuai kenyataan.

Kawan, katanya kita saling berteman.
Katanya kita berteman dalam peradaban.
Tapi apa kenyataan yang memuakkan.
Ketika kami duduk di depan kau pecundangkan.

Kawan, bisakah kau buang semua yang kau pakai di dalam ruangan.
Ruangan dimana kita saling bertatapan.
Dimana tak ada simbol ketika kita saling bertukar pikiran.
Bertukar pikiran dengan sehat dan penuh toleran.
Sehingga kita bisa melangkah bersama menuju masa depan.

Kawan, jangan anggap kami bodoh, karena kami tidak tahu apa-apa.
Jangan anggap kami berbeda, kerena kami tidak dari asal yang sama.
Tapi anggap lah kami seperti seorang saudara.
saudara yang akan menemani suka dan duka.

Kawan, apa ini hanya terjadi pada kita.
Ntah atmosfir apa yang mempengaruhi kita.
Sehingga kita menjadi seperti burung hantu yang buta.
Buta akan segala hal didekat kita.

Kawan, ketika kami duduk di depan, berilah sambutan yang istimewa.
Sambutan yang melegakan dan menenangkan jiwa.
Jangan acuhkan kami seperti sampah yang tak berguna.
Yang kami ingin, hanya perhatian dan kerjasama diantara kita.

Kawan, apa kau tahu apa yang salah pada diri kita.
Yaitu membuat mati teman yang duduk di depan kita.
Membuatnya resah gundah gulana.
Membuatnya merasa frustrasi dan putus asa.

Kawan, sudah kulihat hampir disetiap pertemuan kita.
Tidak ada penghargaan yang kau berikan pada sesama.
Ketika kami gelagapan mencari kata-kata, kau malah asyik tertawa.
Ketika kami salah, kau malah mencibir dan menghina.

Kawan, sudah kulihat hampir setiap pertemuan kita.
Ketika kami berbicara, kau malah asik bercanda.
Ketika kami berbicara, kau malah asik diskusi mendua.
Ketika kami berbicara, kau malah asik tidur tanpa menghiraukan sesama.

Kawan, kau anggap kami ini apa?
Radio butut yang memekakan telinga?
Sampah plastik yang kau anggap hina?
Atau, koran lama yang tidak bermakna?

Kawan, sudah kulihat hampir di setiap pertemuan kita.
Tak ada persahabatan diantara kita.
Sepertinya kita bukan saudara.
Jika memang saudara, mengapa kau buat kami merasa terhina.

Kawan, kau anggap kami ini hiburan belaka.
Kami berbicara, kau ribut sejadi-jadinya.
Ketika kami selesai bicara, kau diam seribu bahasa.
Ketika sang dewa datang, kau seperti kerbau yang tak berdosa.
Pura-pura memperhatikan kami yang sudah kau hina.
Akhirnya kami merasa sakit dan terluka.

Kawan, akan kah kita seperti ini sampai saatnya kita berpisah.
Akan kah kita seperti pengemis yang nestapa.
Melihat sang dewa berbicara mengenai jagadraya.
Kita hanya berpura-pura memahaminya.

Kawan, apa kau tidak merasa sepi di ruangan kita.
Hanya ada suara jangkrik disetiap sekat pembicaraan sang dewa.
Membuat sang dewa leluasa berbuat semaunya pada kita.
Apa kau tidak merasa terhina?

Hanya bisa tertawa ketika sang dewa menyindir kita.
Hanya bisa diam ketika sang dewa membanding-bandingkan kita.
Hanya bisa menunduk ketika sang dewa mengucilkan kita.


****

Tidak ada komentar: