Kawan, Mengapa Begini Kita? [1]
[1] Dunia Literasi, Kawan, Mengapa Begini Kita?, diakses
melalui http://dunialiterasi.co.id/,
Pada 10/03/2018, Pukul 10.20 WIB.
Oleh :
H.
Saefullah
(Bandung, 26 Oktober 2017)
Foto: static.wixstatic.com
Kawan,
sudah setengahnya lebih perjalanan pendidikan kita.
Sudah
berkali-kali kita berjumpa bersama.
Kita
berjumpa di ruangan dimana kita menuai lentera pengetahuan.
Ruangan
yang kita anggap sakral penuh harapan.
Kawan,
apa kau tahu makna dari apa kita dipertemukan.
Dipertemukan
dengan segala macam perbedaan.
Perbedaan
pemahaman, keraguan, kenistaan, dan penderitaan.
Kita
dipertemukan dengan perbedaan harapan dan tujuan.
Kawan,
apa kau tahu betapa sulitnya kita bisa dipertemukan bersama.
Dipertemukan
di sebuah tempat dengan harapan keniscayaan.
Yang
kata orang tempat bagi kaum berpendidikan.
Yang
kata orang tempat bertaruh bagi kehormatan dan kedudukan.
Tapi kawan, apa kau tahu, berapa peluang
yang coba kami dapatkan.
Berapa
pengorbanan yang harus kami pertaruhkan.
Berapa
kegelisahan yang harus kami rasakan.
Hanya
untuk bisa mendapatkan tempat terbaik dalam menentukan masa depan.
Kawan,
apa kau sanggup membunuh segala harapan.
Harapan
yang mutlak kami dapatkan.
Bahkan
sang esa pun kami duakan.
Hanya
untuk menyelesaikan tugas dan urusan yang dibebankan.
Kawan,
sudah lama kita saling mengenal.
Mengenal
nama dan kampung halaman.
Kita
berbincang mengenai harapan.
Harapan
hari esok yang mungkin tak ter-realisasikan.
kawan,
apa kau tahu apa yang aku rasakan.
Merasa
lelah, muak, marah, dalam kesendirian.
Sungguh
miris melihat keadaan.
Keadaan
kita yang tak sesuai kenyataan.
Kawan, katanya kita saling berteman.
Katanya
kita berteman dalam peradaban.
Tapi
apa kenyataan yang memuakkan.
Ketika
kami duduk di depan kau pecundangkan.
Kawan,
bisakah kau buang semua yang kau pakai di dalam ruangan.
Ruangan
dimana kita saling bertatapan.
Dimana
tak ada simbol ketika kita saling bertukar pikiran.
Bertukar
pikiran dengan sehat dan penuh toleran.
Sehingga
kita bisa melangkah bersama menuju masa depan.
Kawan, jangan anggap kami bodoh,
karena kami tidak tahu apa-apa.
Jangan
anggap kami berbeda, kerena kami tidak dari asal yang sama.
Tapi
anggap lah kami seperti seorang saudara.
saudara
yang akan menemani suka dan duka.
Kawan,
apa ini hanya terjadi pada kita.
Ntah
atmosfir apa yang mempengaruhi kita.
Sehingga
kita menjadi seperti burung hantu yang buta.
Buta
akan segala hal didekat kita.
Kawan, ketika kami duduk di depan,
berilah sambutan yang istimewa.
Sambutan
yang melegakan dan menenangkan jiwa.
Jangan
acuhkan kami seperti sampah yang tak berguna.
Yang
kami ingin, hanya perhatian dan kerjasama diantara kita.
Kawan,
apa kau tahu apa yang salah pada diri kita.
Yaitu
membuat mati teman yang duduk di depan kita.
Membuatnya
resah gundah gulana.
Membuatnya
merasa frustrasi dan putus asa.
Kawan, sudah kulihat hampir disetiap
pertemuan kita.
Tidak ada penghargaan yang kau
berikan pada sesama.
Ketika
kami gelagapan mencari kata-kata, kau malah asyik tertawa.
Ketika
kami salah, kau malah mencibir dan menghina.
Kawan,
sudah kulihat hampir setiap pertemuan kita.
Ketika
kami berbicara, kau malah asik bercanda.
Ketika
kami berbicara, kau malah asik diskusi mendua.
Ketika
kami berbicara, kau malah asik tidur tanpa menghiraukan sesama.
Kawan, kau anggap kami ini apa?
Radio butut yang memekakan telinga?
Sampah plastik yang kau anggap hina?
Atau,
koran lama yang tidak bermakna?
Kawan,
sudah kulihat hampir di setiap pertemuan kita.
Tak
ada persahabatan diantara kita.
Sepertinya
kita bukan saudara.
Jika
memang saudara, mengapa kau buat kami merasa terhina.
Kawan, kau anggap kami ini hiburan
belaka.
Kami berbicara, kau ribut sejadi-jadinya.
Ketika kami selesai bicara, kau diam
seribu bahasa.
Ketika sang dewa datang, kau seperti
kerbau yang tak berdosa.
Pura-pura memperhatikan kami yang
sudah kau hina.
Akhirnya kami merasa sakit dan
terluka.
Kawan,
akan kah kita seperti ini sampai saatnya kita berpisah.
Akan
kah kita seperti pengemis yang nestapa.
Melihat
sang dewa berbicara mengenai jagadraya.
Kita
hanya berpura-pura memahaminya.
Kawan,
apa kau tidak merasa sepi di ruangan kita.
Hanya
ada suara jangkrik disetiap sekat pembicaraan sang dewa.
Membuat
sang dewa leluasa berbuat semaunya pada kita.
Apa
kau tidak merasa terhina?
Hanya
bisa tertawa ketika sang dewa menyindir kita.
Hanya
bisa diam ketika sang dewa membanding-bandingkan kita.
Hanya
bisa menunduk ketika sang dewa mengucilkan kita.
****

Tidak ada komentar:
Posting Komentar