Selasa, 12 April 2016

DAMPAK SOSIAL MASYARAKAT DAN LINGKUNGAN AKIBAT EKSPLOITASI GUNUNG PADAKASIH CIMAHI

Dampak Sosial Ekploitasi Gunung Padakasih Cimahi



Hendro Kartika Juniawan[1]


[1] Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Email : h3ndro26@gmail.com, @Sosiologi.

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Indonesia adalah Negara yang beriklim Tropis dan berada di tengah-tengah garis Khatulistiwa dan itu sangat menguntungkan bagi Indonesia, terlebih bagi kekayaan hayati yang dimiliki oleh Indonesia. Kesuburan tanah dan juga kekayaan Flora dan juga Fauna membuat Indonesia menjadi Negara yang bisa dibilang sangat sempurna bila dilihat dari segi kekayaan alamnya. Namun, kekayaan alam yang dimiliki oleh Indonesia tidak menyababkan tingginya rasa kesadaran dan sosial masyarakatnya terhadap lingkungan dan juga alam, itu semua terbukti dari banyaknya kasus perusakan alam dan lingkungan yang dilakukan oleh masyarakat pribumi Indonesia sendiri ataupun pendatang luar. Itu semua membuat bertambahnya keprihatinan penulis terhadap bumi dan juga alam Indonesia tercinta.
Banyak kerusakan lingkungan dan juga alam yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia terhadap negaranya sendiri bahkan terhadap lingkungan dan juga alamnya sendiri. Contoh yang nyata dari hal tersebut ilalah, seperti penebangan liar, pembakaran hutan, eksploitasi besar-besaran terhadap alam dan contoh kecil dari itu semua adalah membuang sampah sembarangan yang pada saat ini sedang menjadi hal yang lumrah dan begitu juga jadi masalah pemerintah terhadap hal tersebut.
Salah satu dari sekian banyak perusakan alam yang nyata, yang terjadi di depan mata penulis sendiri adalah “Pengeksploitasian Gunung” yang terjadi di lingkungan penulis sendiri, yaitu yang terjadi pada Gunung Padakasih, tepatnya di daerah Cimahi, Jawa Barat. Eksploitasi Gunung Padakasih didasarkan pada hasrat manusiawi untuk mengambil sebanyak-banyaknya sumber daya alam yang ada demi keuntungan  diri sendiri maupun kelompok sebuah lembaga, tak terpungkiri dengan berjalannya pembangunan proyek penambangan gunung dan juga pengambilan batu  berserta pasir yang dilakukan di sekitar gunung padakasih oleh para industri kecil. Hal tersebut membuat gunung yang pada asalnya menjulang tinggi dengan gagahnya berubah menjadi gunung yang gundul yang terbelah dua, yang mana gunung dibelah dua untuk dijadikan jalan bagi alat-alat berat untuk menuju belakang gunung tersebut, contoh alat-alat berat tersebut berupa, beko, mobil truk dan yang lainnya. Hal tersebut membuat penulis berniat untuk menjadikan pristiwa ini sebagai salah satu bahan untuk pembuatan makalah sosiologi untuk memenuhi salah satu tugas UTS sosiologi, begitu juga sebagai suatu curahan hati penulis terhadap alam dan lingkungan Kampung Padakasih, Kota Cimahi tercinta.

B.     Rumusan Masalah
Terhadap latar belakang masalah yang telah penulis kemukaan diatas, maka penulis pun juga mengemukakan beberapa rumusan masalah, diantaranya :
1.    Bagaimana proses tejadinya penambangan batu pasang dan juga pasir yang dilakukan disekitar Gunung Padakasih ?
2. Bagaimana dampak sosial, ekonomi dan lingkungan bagi masyarakat akibat penambangan batu pasang dan pasir di sekitar Gunung ?
3.   Bagaimana penanggulangan yang mungkin dapat dilakukan bagi kerusakan alam dan lingkungan di sekitar Gunung akibat pembangunan proyek penambangan batu pasang dan pasir yang dilakukan disekitar Gunung Padakasih ?
C.    Tujuan
Terhadap rumusan masalah tersebut maka tujuan yang ingin di ketahui oleh penulis adalah, sebagai berikut :
1.  Untuk mengetahui bagaimana proses tejadinya penambangan batu pasang dan juga pasir yang dilakukan disekitar Gunung Padakasih.
2.  Untuk mengetahui bagaimana dampak sosial, ekonomi dan lingkungan bagi masyarakat akibat penambangan batu pasang dan pasir di sekitar Gunung.
3.  Untuk mengetahui bagaimana penanggulangan yang mungkin dapat dilakukan bagi kerusakan alam dan lingkungan di sekitar Gunung akibat pembangunan proyek penambangan batu pasang dan pasir yang dilakukan disekitar Gunung Padakasih.






BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Studi Sosial dan Gejala Sosial
Secara umum, study sosial adalah sebuah studi (pembelajaran) yang mempelajari aspek-aspek sosial yang terjadi pada lingkungan sosial baik itu gejala maupun masalah sosial. Menurut Dr. Nursid Sumaatmaja “Studi Sosial diartikan sebagai studi mengenai interaksi ilmu-ilmu sosial dalam menelaah gejala dan masalah sosial yang terjadi di masyarakat. Atau secara praktis, ia dapat pula diartikan sebagai usaha mengadakan interelasi ilmu-ilmu sosial dalam mengkaji gejala dan masalah sosial yang terjadi di masyarakat”.[1]
Interaksi ilmu-ilmu sosial, yaitu diamana antar hubungan disiplin akademik ilmu-ilmu sosial yang di gunakan untuk menelaah gejala-gejala dan masalah sosial saling berkaitan dan berhubungan satu sama lain. Dalam menelaah gejala dan masalah sosial, kita tidak akan dapat mengungkapkannya dengan hanya menggunakan satu atau dua bidang ilmu pengetahuan sosial saja, karena gejala dan masalah sosial tersebut juga merupakan ungkapan hasil hubungan beberapa akspek kehidupan sosial. Jadi dalam kerangka kerja studi sosial, kita dituntut untuk menghubungkan beberapa bidang ilmu pengetahuan sosial dengan gejala dan masalah yang kita telaah tersebut.[2]
Gejala sosial adalah sebuah gejala yang terjadi di lingkungan masyarakat, yang ditimbulkan oleh adanya kondisi, pristiwa, tingkah laku, sikap manusia terhadap lingkungannya sebagai makhluk sosial. Gejala sosial merupakan tanda-tanda pegungkapan aspek-aspek kehidupan sosial manusia dilingkungan masyarakat.[3] Namun bisa diartikan secara singkat bahwa Gejala Sosial adalah sebuah gejala yang terjadi dilingkungan sosial akibat perlakuan manusia sebagai makhluk sosial terhadap lingkungannya, sehingga terjadilah sebuah perubahan yang signifikan yang terjadi pada lingkungan yang mengakibatkan terjadinya gejala sosial.
B.     Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam
            Dalam aspek kehidupan sangatlah berhubungan antara lingkungan dan juga sumber daya alam, yang mana lingkungan adalah sebuah kondisi dan juga faktor eksternal yang mempengaruhi semua organisme, baik biotik yang terdiri dari makhluk hidup dan juga abiotik yang terdiri dari energi, bahan kimia dan yang lainnya,[4] lalu Lingkungan Hidup adalah suatu benda hidup atau mati yang berada disekitar kita dan juga mempengaruhi kita.[5] Sumber daya alam yang tertuju pada energi sumber daya ada pada salah satu dari aspek lingkungan tersebut. Sumber daya alam adalah suatu bentuk bahan atau energi yang diperoleh dari lingkungan fisik yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Namun begitu, sumberdaya alam sangat tergantung pada beberapa aspek yaitu : teknologi, ekonomi, budaya dan pengaruh lingkungan saat mendapatkan atau menggunakan sumber daya tersebut. Sesuatu menjadi berguna atau tidak berguna bagi manusia sebagai akibat dari adanya perubahan teknologi, nilai ekonomi, perubahan budaya dan pengaruh lingkungan saat mendapatkan atau mengunakan sumber daya tersebut.[6] Dalam cara pembaharuannya sumber daya alam dikelasifikan ke dalam dua kelompok, yaitu :
1.      Sumber daya alam yang dapat diperbaharui (renewable resources)
            Sumber daya alam yang dapat diperbaharui adalah sumber daya yang berasal dari sumber yang tidak dapat habis (misalnya energi surya) atau yang dapat diperbaharui dan pulih kembali dengan cepat secara alamiah ataupun dengan campur tangan (pengelolaan) manusia. Sumber daya yang dapat diperbaharui (renewable) tidak akan habis bila laju pemanfaatannya lebih rendah dari laju pembaharuannya secara alami atau dengan kontrol manusia.
Contohnya : tanaman pangan, hewan, padang rumput, hutan, udara, air dan tanah.[7]
2.      Sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (nonrenewable resources)
            Sumber daya yang tidak dapat diperbaharui adalah sumber daya yang dapat digantikan oleh proses alam atau laju penggantiannya lebih rendah dari laju pemanfaatannya. Secara pemanfaatannya sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui (non renewable) dapat dikelompokan ke dalam beberapa kelompok yaitu :
a.       Sember daya yang dapat didaur ulang (recycling) atau digunakan kembali (reuse). Contohnya : mineral logam (tembaga, alumunium, dan besi) dan mineral nonlogam (batuan fosfat).
b.      Sumber daya yang tidak dapat di daur ulang atau tidak dapat digunakan kembali. Contohnya : bahan bakar fosil (batu bara, minyak dan gas alam), dan uranium (untuk pembangkit listrik tenaga nuklir).[8]
C.    Eksploitasi dan Kerusakan Alam serta Lingkungan
            Eksploitasi berasal dari bahasa inggris yaitu exploitation yang berarrti pemerasan, eksploitasi adalah politik pemanfaatan atas kepentingan ekonomi. Eksploitasi sumber daya alam berarti mengambil dan menggunakan sumber daya alam itu untuk tujuan pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Ekploitasi sumber daya alam yang mengabaikan lingkungan mengancam keberlanjutan dan ketersediaan sumber daya alam yang ada, maka hal mengenai pemanfaatan sumber daya alam telah di atur sedemikian rupa dalam konstitusi kita, yaitu dalam pasal 33 ayat 3 Undang-undang Dasar 1945 menjelaskan bahwa “Bumi dan air dan kekayaan yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya demi kemakmuran rakyat”.  Pengambilan sumber daya alam harus dilakukan dengan sebaik mungkin tanpa merusak alam dan membunuh seluruh ekosistem yang ada didalamnya agar dapat di gunakan dan diperbaharui kembali dimasa yang akan datang.[9]
            Kerusakan lingkungan hidup merupakan deteorisasi lingkungan yang ditandai dengan hilangnya sumber daya tanah, air, udara, punahnya fauna liar, dan kerusakan ekosistem. Kerusakan lingkungan merupakan ancaman yang paling berbahaya untuk kelangsungan hidup manusia. Saat alam rusak karena dihancurkan dan kehilangan sumber daya, itu merupakan tanda bahwa lingkungan mengalami kerusakan. Factor penyabab terjadinya kerusakan lingkungan hidup terdapat 2 macam, yaitu :
1.      Kerusakan akibat factor alam
            Kerusakan lingkungan hidup oleh alam terjadi karena adanya gejala atau peristiwa alam yang terjadi secara hebat sehingga mempengaruhi keseimbangan lingkungan hidup. Peristiwa-peristiwa alam yang mengakibatkan kerusakan lingkungan antara lain, yaitu seperti : Letusan Gunung Api, Gempa Bumi, Banjir, Tanah Longsor, Angin Topan, dan Kemarau Panjang.
2.      Kerusakan Lingkungan Hidup Akibat Aktivitas atau Ulah Manusia
            Manusia sebagai khalifah di muka bumi ini berperan besar dalam menentukan kelestarian lingkungan hidup. Manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan mampu merubah wajah dunia dari pola kehidupan sederhana sampai kebentuk kehidupan modern seperti sekarang ini. Namun sayang, seringkali apa yang dilakukan manusia tidak diimbangi dengan pemikiaran akan masa depan kehidupan generasi berikutnya. Banyak kemajuan yang diraih oleh manusia membawa dampak buruk terhadap kelangsungan lingkungan hidup, yaitu seperti : Pemburuan hutan yang membabi buta, Kebakaran hutan, Penggundulan hutan, Penambangan, Limbah industri, dan Radiasi nuklir.[10]  
D.    Eksploitasi Terhadap Gunung Padakasih
            Sumber daya alam yang ada di sekitar kita adalah sebuah anugerah yang di karuniakan tuhan kepada kita sebagai manusia, yang mana anugerah itu selayaknya kita syukuri dengan cara memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya dan menjaga kelestariannya. Salah satu dari sumber daya alam adalah Gunung yang mana gunung memberikan banyak manfaat bagi kehidupan dan kebutuhan manusia, baik itu dari tanaman dan hewan yang ada di dalamnya, tanah, batu, dan segala yang menjadi bagian dari padanya, dan semua itu selayaknya di jaga oleh manusia dan di manfaatkan dengan sebai-baiknya tanpa meng-Eksploitasi secara berlebihan sumber daya yang ada padanya. Dan salah satu gunung sebagai sumber daya alam adalah Gunung Padakasih yang mana telah banyak di ambil manfaat dan sumber daya alamnya untuk keperluan dan kebutuhan masyarakatnya.
1.      Pengenalan Gunung Padakasih
                  Gunung Padakasih adalah salah satu dari rangkaian gunung-gunung kecil yang melingkari Kota Bandung. Posisi gunung padakasih berada di sebelah barat kota bandung, tepatnya di perbatasan antara Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat[11], tepatnya di daerah Kampung Padakasih Rt08 Rw08, Kelurahan Cibeber, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi. Gunung padakasih memiliki ketinggian ± 946 m, letak gunung padakasih kurang lebih 10 km dari pusat kota yang mana bisa di jangkau dengan cara naik kendaraan pribadi atau kendaraan umum (angkot), kendaraan umum yang dapat di gunakan untuk menuju gunung padakasih adalah angkot, angkot yang dapat digunakan yang berwarna biru yang mengambil rute dari Cimahi menuju Cangkorah dan sebaliknya yang melewati Kampung Padakasih, dengan harga ± hanya 5 Rb rupiah.
                  Secara umum gunung padakasih bukan lah gunung yang terbilang menarik, namun bagi penulis sendiri gunung padakasih adalah gunung yang istimewa karena berada di dekat tempat tinggal penulis dan dari penulis kecil hingga sekarang gunung tersebut masih kokoh berdiri walau dengan segala kerusakan yang ada pada badan gunung tersebut saat ini. Walau gunung padakasih tidak di jadikan sumber mata pencaharian utama bagi masyarakat sekitarnya, namun masyarakat sekitar menggunakan gunung padakasih sebagai media penanaman pohon-pohon yang akan di manfaatkan oleh masyarakat sekitarnya pada masa berbuah atau panen, seperti : pohon manga, rambutan, campoleh, sirsak, umbi-umbian dan yang lainnya. Namun seiring dengan perkembangan jaman masyarakat sekitar disibukkan dengan pekerjaan yang lain, mereka lebih fokus terhadap sumber mata pencaharian utama mereka, sehingga mereka kurang mempedulikan alam begitu juga gunung padakasih sendiri, sehingga mereka kurang memanfaatkan gunung padakasih sendiri dan akhirnya, pepohonan yang ada di sekitar gunung padakasih adalah pepohonan atau tanaman liar yang tumbuh dengan sendirinya karena masyarakat sudah terbilang jarang menanam dan mempergunakan gunug padakasih lagi. Selain sebagai media penanaman pohon, sudah sekian lama sebagian dari gunung padakasih di jadikan area pemakaman umum bagi masyarakat sekitar yang meninggal dunia, yang tidak memiliki tempat untuk pemakannya sendiri.
2.      Proses Terjadinya Proyek Penambangan Batu Pasang dan Pasir di Sekitar Gunung Padakasih
                  Gunung Padakasih awalnya adalah gunung yang bisa dibilang subur karena banyak sebagian masyarakat yang menanami pohon di gunung tersebut dan banyak pohon dan tanaman yang tumbuh dengan sendirinya di sekitar gunung tersebut, sampai masyarakat disekitarnya kurang mempedulikan gunung tersebut lagi dan akhirnya berjalan lah proyek penambangan batu pasang dan pasir di gunung padakasih tersebut, proyek tersebut di lakukan oleh industri pertambangan kecil yang mana proyek tersebut mulai berjalan dari pertengahan bulan juni hingga sekarang, yang awalnya banyak warga yang kurang setuju dengan pembangunan proyek tersebut, karena atas dasar dampak buruk yang mungkin bias ditimbulkan, seperti mungkin banjir atau pun juga longsor,  namun selain banyak yang tidak setuju ada pula warga sekitar yang setuju yang lebih berpihak pada pembangunan proyek tersebut karena atas dasar di berikannya jaminan terhadap dampak yang di timbulkan dan juga biaya atau uang bagi warga sekitar, uang tersebut untuk memberikan ganti terhadap gangguan yang ditimbulkan proyek tersebut terhadap warga sekitar. Sampai sekarang proyek tersebut telah menghabiskan sebagian dari badan gunung karena diambil batu dan juga pasirnya, sampai demi melancarkan jalan yang dilalui alat-alat berat, proyek tersebut membelah gunung menjadi dua untuk mengambil dan mengeruk batu dan juga pasir dari belakang gunung. Memang dari depan gunung padakasih terlihat seperti biasa hanya seperti gunung yang dibelah dua saja, namun dari belakang gunung padakasih sudah nampak rusak dan di gunduli, bahkan saat penulis survei ke lokasi penambangan, di belakang gunung tersebut hampir sudah rata.
                  Proses pengambilan batu dan pasir yang terjadi digunung padakasi di lakukan dengan cara manual dan juga otomatis, secara manual pengambilan batu di lakukan oleh manusia atau pekerja sendiri dengan menggunakan alat-alat bantu yang lain seperti : cangkul dan juga martil, para pekerjapun tidak di berikan alat perlengkapan keamanan seperti sarung tangan, helem dan alat keselamatan penunjang lainnya, para pekerja hanya menggunakan alat dan perlengkapan seadanya, secara otomatisnya pengambilan tanah dilakukan dengan menggunakan alat berat seperti beko dan yang lainnya, lalu batu dan pasir yang sudah di kumpulkan di angkut menggunakan truk menuju tempat yang dituju, lalu selanjutnya diperjual belikan.  
3.      Dampak Sosial Proyek Penambangan Batu Pasang Terhadap Lingkungan dan Masyarakat
                  Industri pertambangan merupakan salah satu industri andalan pemerintah Indonesia untuk mendatangkan devisa. Selain mendatangkan devisa industry pertambangan juga menyedot lapangan kerja dan bagi kabupaten dan kota merupakan sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD). Industri pertambangan selain mendatangkan devisa dan menyedot lapangan kerja juga rawan terhadap pengrusakan lingkungan. Banyak kegiatan penambangan yang mengundang sorotan masyarakat sekitarnya karena pengrusakan lingkungan, apalagi penambangan tanpa izin yang selain merusak lingkungan juga membahayakan jiwa penambang karena keterbatasan pengetahuan si penambang dan juga karena tidak adanya pengawasan dari dinas instansi terkait. Menurut Undang-undang Nomor 23 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan, pengrusakan lingkungan adalah tindakan yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik dan atau hayatinya yang mengakibatkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan.[12]
                  Dalam suatu pembangunan industri pasti ada suatu dampak yang dihasilkan, dan dampak tersebut juga bisa berdampak ganda. Baik dampak positif ataupun dampak negatif yang akan di alami suatu masyarakat yang ada di lingkungan industri tersebut, dampak itu berupa dampak kehidupan sosial, dampak ekonomi, maupun dampak lingkungan. Semua dampak tersebut akan berimbas pada perubahan-perubahan yang terjadi dimasyarakat.
                  Begitupun pada pembangunan industri yang ada di sekitar Gunung Padakasih, industry penambangan di gunung tersebut selain menimbulkan hal yang baik dan menguntungkan bagi masyarakat, juga dapat menimbulkan dampak yang buruk bagi masyarakat sekitarnya. Hal baik yang di timbulkan dari pembangunan industri pertambangan tersebut adalah dapat menghasilkan dana tambahan kepada pemerintah sekitar dan mengisi kas-kas bagi pemerintah sekitar, seperti kas RT maupun Rw sekitar, selain menghasilkan dana tambahan bagi pemerintah desa setempat, pembangunan pertambangan batu dan pasir tersebut juga bisa menjadi salah satu lahan pekerjaan, alternative pekerjaan bagi para pengangguran dan yang belum berpenghasilan di lingkungan sekitar pembangunan tersebut. Namun selain memberikan hal yang baik atau positif juga dapat menghasilkan dampak buruk atau negative bagi kondisi sosial setempat baik dalam aspek sosial, ekonomi maupun dampak lingkungan.
1.      Dampak Kehidupan Sosial
            Dampak yang ditimbulkan pertambangan terhadap kehidupan sosial lingkungan sekitarnya adalah dimungkinkan terjadinya masalah seperti konflik antar masyarakat dengan pekerja pertambangan karena ketidaknyamanan masyarakat terhadap proses pengerjaan permbangunan tersebut, juga menyebabkan perubahan sosial pada masyarakat, baik prilaku sosial, mental masyarakat sekitar yang lebih memilih menjadi pekerja tambang ketimbang mencari pekerjaan dan pendapatan lain yang lebih baik dikarenakan betapa mudahnya di terima menjadi pekerja pertambangan apalagi bagi warga sekitar, perubahan pola mata pencaharian dan yang lainnya. Masalah sebenarnya adalah suatu keadaan atau pristiwa yang tidak berjalan sebagaimana mestinya sehingga menimbulkan persoalan bahkan sampai kepada konflik. Menurut Prof. Dr. R. Bintaro mengatakan bahwa “masalah atau problem adalah apabila sesuatu mengganggu ketenangan atau ketentraman penduduk dan dimana masih selalu dapat diharapkan akan penyelesaiannya”.
2.      Dampak Ekonomi
            Keberadaan petambangan di Gunung Padakasih merupakan suatu yang penting bagi  sebagian warga sekitar, mengapa? Karena warga sekitar juga sebagian bergantung pada keberadaan pertambangan, sebab warga sekitar juga banyak yang menjadi pekerja tambang di proyek tersebut. Sehingga bagi perekonomian sebagian warga pertambangan adalah suatu yang penting bagi sebagian mereka. Bila di lihat dari dampak perekonomian warga sekitar dan pemerintah desa, ada yang berdampak positif dan ada juga yang berdampak negatif, dampak positifnya pertambangan menjadi salah satu lapangan pekerjaan bagi sebagian masyarakat sekitar, juga sebagai peningkat ekonomi masyarakat dan pendapatan masyarakat, juga sebagai dana tambahan bagi kas pemerintah desa. Namun selain dampak positif dampak negative yang ditimbulkan adalah memungkinkannya terjadi pengangguran besar setelah pertambangan berhenti, apalagi kondisi ini mungkin akan diperburuk dengan aspek sosial dan psikoligis warga sekitar yang bekerja, karena setelah lama mereka bekerja mereka sudah terlalu nyaman dengan pekerjaan yang mereka dapatkan, sehingga membuat mereka tidak mau mencari pekerjaan selain menjadi buruh atau pekerja tambang lagi.
3.      Dampak Lingkungan
            Selain dampak sosial dan ekonomi yang telah di terangkan tadi, dampak yang paling besar dan memungkinkan bagi penambangan Gunung Padakasih tersebut adalah dampak terhadap lingkungan. Dampak yang secara real penulis perhatikan bahkan sebagian penulis alami adalah banjir yang pada mulanya penulis alami, pada permulaan berjalannya penambangan saat turun hujan terjadi banjir dibarengi dengan lumpur tanah atau penduduk sekitar sering menyebut “Leutak” yang berasal dari proses sisa pertambangan batu dan pasir di atas permukiman warga, setelah di selidiki air dan lumpur tersebut berasal dari  gungung yang di jadikan media penambangan, dikarenakan lahan sekitar seperti pohon dan rumput yang di jadikan penambangan pada gunung habis di bersihkan dan di tebang sehingga aliran air hujan dari gunung tidak tertahan oleh pohon dan rumput sebagaimana mestinya, sehingga aliran deras air di sertai lumpur yang berasal dari gunungpun turun mengalir kepemukiman warga sehingga warga yang mendapat dampak dan imbasnya, banyak rumah warga yang terkena banjir dan lumpur tersebut, tak ayal hal tersebut membuat warga resah dan terganggu.
            Selain banjir dampak yang dirasakan warga terhadap pembangunan penambangan tersebut adalah Polusi Udara dan Polusi Suara, polusi udara yang ditimbulkan dari hasil penambangan adalah debu dan pasir yang bertebaran sehingga mengganggu kediaman warga yang berada dekat dengan tempat penambangan tersebut, selain polusi udara, polusi yang di alami warga sekitar juga polusi suara yang mana polusi suara dari alat-alat berat yang digunakan untuk penambangan tersebut juga mengganggu warga yang dekat jaraknya dengan tempat penambangan, dan juga banyaknya lalu lalang mobil truk besar yang mengangkut pasir dan juga batu dari atas gunung, sehingga selain menimbulkan kebisingan juga membuat jalan-jalan sekitar menjadi terganggu, kotor dan juga rusak.
            Selain banjir, polusi udara dan suara dampak yang mungkin di timbulkan dan menjadi kekhawatiran penulis dan mungkin warga sekitar adalah takutnya terjadi longsor. Kegiatan penambangan pasir dengan laju yang tinggi akan mengakibatkan kemungkinan besar terjadinya Erosi atau pengikisan pada bidang tanah, menyebabkan sebagian tanah yang berada di sekitarnya, terutama yang berada di bagian atas akan mengalami longsor[13], karena banyaknya pasir dan batu yang di tambang dan di ambil, dan juga banyaknya rongga-rongga di badan gunung akibat erosi yang memungkinkan beberapa tahun kedepan setelah kondisi fisik gunung semakin parah dan di tambah hujan deras tidak menutup kemungkinan akan terjadinya longsor, dan hal itulah yang paling di takutkan oleh warga sekitar.
4.      Penanggulangan Terhadap Dampak dari Proyek Penambangan Batu Pasang dan Pasir
                  Dalam pembangunan pertambangan banyak dampak yang ditimbulkan sebagaimana yang tadi telah penulis jelaskan, sehingga. Dalam penanggulangan dampak buruk yang ditimbulkan dari pembangunan pertambangan batu dan pasir di Gunung Padakasih, maka peran seluruh lapisan masyarakat di sekitar sangat di perlukan. Mungkin hal yang mungkin dapat di lakukan dalam menanggulangi hal tersebut adalah :
1.      Peran Masyarakat dan Pemerintah Sekitar
            Dalam penanggulangan tersebut, yang mungkin dapat dilakukan oleh masyarakat sekitar adalah dengan cara mengadakan musyawarah antar masyarakat dan pejabat atau pemimpin pertambangan yang membicarakan mengenai masalah tersebut sehingga dapat menemukan titik terang antar hal tersebut agar proyek penambangan tidak di hentikan dan masyarakatpun tidak akan terkena dampak negatifnya. Sedangkan dalam musyawarah di atas pemerintah memiliki andil besar dalam menengahi musyawarah tersebut sehingga dengan kekuasaan pemerintah dan dengan wewenangnya bisa menghasilkan keputusan yang netral yang dapat memberikan kepuasan bagi masyarakatnya dan tidak membuat pihak pertambangan merasa dirugikan.
2.      Langkah Lebih Lanjut
            Dalam penanggulangan tersebut selain mengandalkan musyawarah antar kedua belah pihak dan juga peran dan kewenangan dari pemerintah juga kita bisa melakukan langkah-langkah lebih lanjut, seperti :
ü Melakukan kampanye sadar lingkungan yang di lakukan oleh karangtaruna yang bekerja sama dengan pemerintah desa sekitar, sehingga karangtaruna bisa menyampaikan gagasan kampanye sadar lingkungan kepada masyarakat dan menjalankannya secara optimal.
ü Masyarakat khususnya pekerja penambangan batu dan pasir harus memperhartikan lingkungan dan badan sekitar gunung, di mungkinkan para pekerja bisa diminta untuk menanam kembali pohon apabila akan pindak kebagian gunung lain yang akan di ambil lagi batu beserta pasirnya. Sehingga hal ini akan membuat lahan yang sudah di tambang akan ditumbuhi lagi pepohonan dan rerumputan baru, sehingga dapat mengatasi sedikitnya penyebab banjir yang telah di alami warga sekitar.
ü Pemerintah desa mungkin bisa menghimbau kepada masyarakat untuk mengadakan kegiatan gotong royong atau kerja bakti yang di jadikan perogram mingguan untuk membersihkan lingkungan dan tanggap akan segala hal yang memungkinkan akan mengakibatkan banjir atau longsor dan sebagainya.
ü Yang terakhir mungkin peran pemerintah yang paling besar setelah langkah-langkah di atas dilakukan yaitu dengan melakukan arahan-arahan dan pengamatan terhadap masyarakat dan pekerja proyek penambangan agar hal yang tidak di inginkan bisa di atasi dengan secepatnya.[14]
                  Mungkin itulah beberapa kemungkinan yang dapat penulis sampaikan untuk menanggulangi beberapa masalah dan dampak buruk bagi masyarakat, atas adanya pembangunan pertambangan batu dan pasir di area sekitar Gunung Padakasih tersebut.


.






BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hal yang telah di bahas di atas tadi maka penulis bisa menyimpulkan seperti berikut ini :
ü  Penambangan yang di lakukan di sekitar Gunung Padakasih oleh industri kecil menimbulkan beberapa hal baik positif maupun negatif, hal tersebut disebabkan dari berjalannya proses pengambilan batu dan juga pasir dari sekitar gunung. Proses pengambilan batu dan pasir di lakukan dengan cara manual dan juga otomatis, secara manual pengambilan batu di lakukan oleh manusia atau pekerja sendiri dengan menggunakan alat-alat bantu yang lain seperti : cangkul dan juga martil, secara otomatisnya pengambilan tanah dilakukan dengan menggunakan alat berat seperti beko dan yang lainnya, lalu batu dan pasir yang sudah di kumpulkan di angkut menggunakan truk menuju tempat yang dituju, untuk berikutnya di perjual belikan. 
ü  Selama proses penambangan batu dan pasir berjalan, banyak dampak yang ditimbulkan dan yang di alami oleh warga sekitar, baik dalam aspek kehidupan sosial, eknomi maupun dampak terhadap lingkungan, hal yang paling besar dialami warga sekitar adalah dampak lingkungan, bagaimana selama berjalannya proyek penambangan tersebut masyarakat terkena imbas seperti banjir yang disertai dengan lumpur, juga polusi udara dan suara.
ü  Setelah warga sekita merasakan dampak dari pembangunan peroyek penambangan tersebut maka harus diadakannya penanggulangan untuk meminimalisir setidaknya imbas buruk yang diterima warga dari pembangunan tersebut, dan hal ini tidak jauh meliputi peran masyarakat dan pemerintah daerah sendiri.





DAFTAR PUSTAKA         
Sumaatmaja, Nursid. 1986. Pengantar Studi Sosial. Bandung : Alumni.
Soegianto, Agoes. 2005. Ilmu Lingkungan. Surabaya : Surabaya Airlangga University Press.
Yudhitira, Wahyu Krisna, Agus Hadiyanto. 2011.Kajian Dampak Kerusakan Lingkungan Akibat Kegiatan Penambangan Pasir Di Desa Keningar Daerah Kawasan Gunung Berapi, Jurnal Ilmu Lingkungan Program Studi Ilmu Lingkungan Program Pasca Sarjana UNDIP.
Nagita Yanti, Siska. 2012.Skripsi Dampak Sosial Pembuatan Batu Bata Terhadap Masyarakat. Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, UIN SGD Bandung.
Nur Diahwanti, Irnani. 2007. “Kajian DampakLingkungan Kegiatan Penambangan Pasir Pada Daerah Sabuk Hijau Gunung Sumbing Di Kabupaten Temanggung”, Tesis Program Study Ilmu Lingkungan Pasca Sarjana UNDIP.
Rian Wiraharta, “Pengertian, Faktor Penyebab, Upaya dan Contoh Kerusakan Lingkungan Hidup”, Rian Wiraharta Blog, diakses dari https://rianwiraharta.blogspot.com/2005/03/pengertian-faktor-penyebab-upaya.html?=1, pada tanggal 26 maret 20016 pukul 16:01 WIB
Ilham Irdian, “Eksploitas Alam”, Ilhamirdian, diakses dari https://ilhamirdian.wordpress.com/2012/04/21/eksplitasi-alam/, pada tanggal 25 maret 2016 pukul 19:59 WIB
Wikipedia, “Gunung Padakasih”, diakses dari https://id.m.wikipedia.org/wiki/Gunung_padakasih, pada tanggal 26 maret 2016 pukul 15:27 WIB
Skripsi PAI, “Cara Penulisan Footnote, Ibid, Op.Cit, Loc.Cit Yang Benar”, diakses dari http://skripsi-tarbiyahpai.blogspot.com/2014/05/cara-penulisan-footnote-ibid-opcit-loc.html?m=1, pada tanggal 26 maret 2016 pukul 19:45 WIB




[1] DR. Nusrudin Sumaatmadja, Pengantar Studi Sosial, Alumni,Bandung, 1986,  hlm. 38
[2] Ibid., hlm. 38-39
[3] Ibid., hlm. 39
[4] Agoes Soegianto, Ilmu Lingkungan (Sarana Menuju Masyarakat Berkelanjutan), Airlangga University Press (AUP), Surabaya, 2005, hlm. 1
[5] Rian Wiraharta, “Pengertian, Faktor Penyebab, Upaya dan Contoh Kerusakan Lingkungan Hidup”, Rian Wiraharta Blog, diakses dari https://rianwiraharta.blogspot.com/2005/03/pengertian-faktor-penyebab-upaya.html?=1, pada tanggal 26 maret 20016 pukul 16:01 WIB
[6] Agoes Soegianto, op.cit., hlm. 4-5
[7] Agoes Soegianto, op.cit., hlm. 5-6
[8] Agoes Soegianto, op.cit., hlm. 6
[9] Ilham Irdian, “Eksploitas Alam”, Ilhamirdian, diakses dari https://ilhamirdian.wordpress.com/2012/04/21/eksplitasi-alam/, pada tanggal 25 maret 2016 pukul 19:59 WIB
[10] Rian Wiraharta, “Pengertian, Faktor Penyebab, Upaya dan Contoh Kerusakan Lingkungan Hidup”, Rian Wiraharta Blog, diakses dari https://rianwiraharta.blogspot.com/2005/03/pengertian-faktor-penyebab-upaya.html?=1, pada tanggal 26 maret 20016 pukul 16:01 WIB
[11] Wikipedia, “Gunung Padakasih”, diakses dari https://id.m.wikipedia.org/wiki/Gunung_padakasih, pada tanggal 26 maret 2016 pukul 15:27 WIB
[12] Yuditira dkk, “ Kajian Dampak Kerusakan Lingkungan Akibat Kegiatan Penambangan Pasir Di Desa Keningar Daerah Kawasan Gunung Berapi,” Jurnal Ilmu Lingkungan Program Studi Ilmu Lingkungan Program Pasca Sarjana UNDIP, 2011, hlm. 76-77
[13] Irnani Nur Diahwanti, “Kajian DampakLingkungan Kegiatan Penambangan Pasir Pada Daerah Sabuk Hijau Gunung Sumbing Di Kabupaten Temanggung”, Tesis Program Study Ilmu Lingkungan UDS (Universitas Diponegoro Semarang), 2007, hlm. 75
[14] Siska Nagita Yanti, “Skripsi Dampak Sosial Pembuatan Batu Bata Terhadap Masyarakat”, UIN SGD Bandung, Bandung, 2012, hlm. 78-79

Tidak ada komentar: