Pengertian sejarah secara bahasa (etimologi) berasal dari
kata syajarah dari bahasa Arab, yang berarti “pohon
kehidupan, akar, keturunan, dan asal-usul.” Dinamakan demikian karena pada awal
perkembangannya sejarah pada masa klasik, berfokus untuk menelusuri asal-usul
dan genelogi yaitu nasab atau keturunan. (Badri Yatim, 1997: 27-29)
Dalam bahasa Yunani, berasal dari kata historia yang berarti “orang
pandai atau penelitian”, kemudian ada history dalam
bahasa Inggris yang artinya events in the past atau (peristiwa masa lalu).
(Sulasman, 2014: 15-16)
Secara istilah (terminology), sejarah merupakan peristiwa penting yang terjadi dimasa lalu yang dilakukan oleh manusia atau rekonstruksi masa lalu secara singkatnya. Sedang secara menyeluruh dapat kita simpulkan bahwa Sejarah tidak terlepas dari kata peristiwa, umat manusia, dan masa lalu.
Penulisan sejarah atau historiografi pada masa Arab Pra-Islam, diwarnai dengan tradisi yang menyerupai sejarah lisan, yang dikenal dengan al-Ayyam dan al-Anshab. keduanya mewarnai corak historiografi masa setelahnya, terutama Historiografi Islam.
a.
Ayyam
al-Arab
Al-Ayyam disebut juga hari-hari penting atau peperangan, masyarakat
Arab mengabadikan peristiwa penting mereka yang sebagian besar merupakan
peristiwa perang kedalam sebuah syair atau prosa. Beberapa peristiwa penting
yang tercatat, seperti: Perang al-Basus (5M), Dahis, al-Ghabra, dan Yawm Fujjar
(terjadi pada bulan-bulan haram). (Badri Yatim, 1997: 29-30)
Perlu kita ketahui bahwa seiring berjalannya waktu hingga Islam
hadir di tanah Arab dan mengawali kebangkitannya, tradisi Al-Ayyam ini masih
tetap berlangsung dan banyak mempengaruhi langgam penulisan sejarah Islam pada
masa berikutnya. Hal ini senada dengan pendapat para ahli sejarah Islam yang
sepakat bahwa istilah “ilm al-tarikh” atau historiografi Islam, betul-betul
berangkat dan berakar dari tradisi khabar yang biasa berkembang di kalangan
masyarakat Arab sebelum Islam, atau yang biasa dikenal ayyam al-Arab, yakni
cerita peristiwa (peperangan) suku-suku mereka bangsa Arab. (Ajid Thohir, 2012:
432)
b.
Al-Anshab
Bentuk tradisi Arab pra-Islam yang mengandung informasi sejarah
lainnya adalah al-anshab (silsilah atau genelogi). Sejak masa jahiliyah
masyarakat Arab sangat memperhatikan dan memelihara pengetahuan mengenai nasab (garis
keturunan). Nasab juga pada masyarakat Arab pra-Islam dikaitkan dengan syair,
dimana topik-topik utama syair pada saat itu berkaitan dengan masalah nasab.
(Badri Yatim, 1997: 37-38)
Hapalan terhadap nasab pada masyarakat
Arab, sesuadah Islam datang, mempunyai kedudukan tersendiri dalam sejarah,
sehingga perhatian masyarakat Arab terhadap kajian genelogi ini terus berlanjut
hingga Islam datang. Bahkan, tradisi Al-Ansab ini setelah hadirnya Islam
menjadi cikal-bakal dalam mengembangkan tradisi ketokohan seseorang. Karena
salah satu keberadaan status sosial seseorang terletak pada garis keturunannya.
Tradisi penulisan Al-Ansab ini, kelak akan memberikan pengaruh dalam membentuk
jalur-jalur genelogi keilmuan atau sanad-sanad keilmuan serta telah menunjang
bagi pola penulisan biografi dan hagiografi dalam sejarah Islam. (Ajid Thohir, 2012: 436)




