Nasionalisme : Gerbang Menuju
Kemerdekaan atau Pengoyak Persatuan Umat?
Abstrak
: Nasionalisme secara umum merupakan
respon yang di dapatkan oleh umat Islam terhadap Imperialisme yang dilakukan
oleh Barat di negara-negara Muslim. Hal ini tentu menjadi positif bila dilihat
dari aspek perlawanan atas Barat guna membebaskan diri dari yang namanya Kolonialisme dan Imperialisme, hingga berujung membawa kepada kemerdekaan. Namun, siapa
sangka Nasionalisme sendiri merupakan paham yang sengaja di tebarkan Barat
kepada umat Muslim lewat media Imperialisme yang mereka lakukan. Sehingga dapat
dikatakan bahwa, Nasionalisme merupakan paham yang diperkenalkan Barat guna mengoyak
kesatuan umat Islam di negeri-negeri Muslim, yang pada awalnya terakumulasi dalam
kesatuan umat Islam dibawah kekuasaan Turki Utsmani.
Kata Kunci
: Nasionalisme, Imperialisme, Islam, Turki Utsmani.
Keadaan dunia Islam pada abad ke-19 M
merupakan manifestasi kesadaran baru bagi masyarakat Muslim. Namun, seiring
dengan kemunduran yang dialami, satu demi satu negeri-negeri Islam yang sedang
rapuh jatuh ke tangan Barat dan berada dalam kekuasaan Imperialisme Barat. Kemudian,
dalam waktu yang tidak lama, kerajaan-kerajaan besar Eropa sudah berhasil
menguasai dan membagi-bagi seluruh dunia Islam (Badri Yatim, 2014 : 181).
Selain menguasai, mereka juga mengobrak-abrik kesatuan umat Islam yang
sebelumnya terakumulasi dan berada dibawah kekuasaan Turki Utsmani. Dan seiring
dengan menggeliatnya Imperialisme yang dilancarkan Barat, semakin memberikan
tekanan dan perhatian penuh umat Muslim untuk menghentikan Imperialisme Barat
atas dasar kebangsaan dan kemerdekaan. Kemudian, disaat itulah muncul apa yang
disebut sebagai Nasionalisme, yang kemudian pada perkembangan selanjutnya,
menjadi gerbang awal, sarana dan bagian paling penting yang menghantarkan Umat
Islam kepada Kemerdekaannya atas kekangan Imperialisme sebelumnya.
Nasionalisme pada awalnya merupakan
produk modernitas pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 di Eropa, yang merupakan
salah satu paham yang berpengaruh luas dewasa ini. Kenyataan ini juga terjadi
pada negera-negara Muslim di Timur Tengah, dimana kesatuan ideologi keagamaan
yang sebelumnya menguasai dunia Islam telah tersingkir oleh kesatuan
elemen-elemen sosial seperti bahasa, kesamaan sejarah, identitas dan
solidaritas sosial yang berpengaruh dalam kesatuan politik suatu bangsa (M.
Ariful Ashaf, 2016 : 226). Pada perkembangan awalnya, Nasionalisme sendiri
menuai banyak tentangan dari pemuka-pemuka Islam, karena dipandang tidak
sejalan dengan semangat Ukhwah Islamiah (Badri
Yatim, 2014 : 187), namun, seiring dengan tekanan Imperialisme, maka
Nasionalisme menjadi alternatif pilihan paling akhir sebagai media dalam
merespon Imperialisme, terlebih setelah hilangnya semangat Pan-Islamisme di
perkembangan sebelumnya.
Perlu diketahui, sebenarnya seiring
dengan menggeliatnya Imperialisme dan Nasionalisme sebagai responnya, ini
menjadikan Nasionalisme sebagai saingan paling sengit bagi Ideologi Islam,
dimana sebelumnya umat Islam bersandar kepada Ideologi Islam dengan berdasarkan
kepada persatuan Umat Islam (Ukhwah
Islamiah dan aqidah Islam), sedangkan setelah munculnya Nasionalisme ini beralih
kepada persatuan bangsa berdasarkan atas elemen-elemen sosial yang ada. Hal ini
menjadi sangat ironis, karena Nasionalisme sendiri menjadi aset paling berharga
bagi Barat untuk mengoyak kesatuan umat Islam, hal ini dapat dilihat dimana
Nasionalisme, dijadikan sebuah alat untuk memecah belah kekuasaan Turki Utsmani
pada saat itu. Nasionalisme ditebarkan oleh barat kepada bangsa-bangsa dibawah
kekuasaan Turki Utsmani untuk mempermudah dan memperlancar geliat Imperlisme,
mereka berusaha memutus hubungan antara negari-negeri bawahan Turki Utsmani
dengan iming-iming kemerdekaan yang dihasilkan dari Nasionalisme (Tim Riset dan
Studi Islam Mesir, 2013 : 294).
Nasionalisme merupakan konsep yang baru
bagi dunia Islam, karena tidak mendasarkan kepada unsur-unsur keagamaan,
sehingga ada yang berpendapat bahwa nasionalisme adalah produk yang diimpor dan
sengaja diekspor oleh para penguasa kolonial yakni Barat untuk mengacaukan
persatuan di dunia Islam (Ajat Sudrajat : 6). Dimana, tujuan akhir dari
Nasionalisme sendiri adalah terbentuknya negara nasional (national-state) bukan negara dunia (world-state) (Dedi Supriyadi, 2008 : 269-270), sehingga akhirnya
dunia Islam terbagi ke dalam negara-negara nasional yang didasarkan kepada
elemen dan faktor kesejarahan, kebudayaan, etnis, atau bahasa, bukan atas dasar
kesatuan agama yaitu agama Islam (Ajat Sudrajat : 1).
Namun, terlepas dari segala isu awal
yang mewarnai kemunculannya, Nasionalisme memiliki beberapa peran yang cukup
signifikan dalam membendung geliat Imperialisme Barat atas Dunia Islam,
sehingga menghantarkan kepada Kemerdekaan wilayah, bangsa, dan negeri Muslim.
Namun, seiring dengan perkembangannya yang menjadi respon atas Imperialisme
serta melahirkan kemerdekaan bagi negeri muslim yang terjajah, harga yang
dibayar sangatlah mahal dalam hal ini. Dimana, ketika umat Islam menerima
Nasionalisme, maka mereka telah membuang yang namanya Ideologi persatuan Islam
(Ukhwah Islamiah dan aqidah Islam),
dimana hingga hari ini, dunia Islam sudah terkotak-kotak dengan latar belakang
tersendiri yaitu berdasarkan bahasa, kesamaan sejarah, identitas dan
solidaritas sosial, bukan atas dasar persatuan umat Islam (Ukhwah Islamiah dan aqidah Islam) lagi.
Diluar dari pertentangan itu, apakah
Nasionalisme merupakan gerbang menuju kemerdekaan atau pengoyak persatuan umat,
yang disandarkan kepada Nasionalisme dijadikan sebuah aset paling berharga bagi
Barat untuk memecah belah kekuasaan Turki Utsmani, itu mungkin menjadi sebuah
pilihan paling bijak dan merupakan respon dari Jiwa zamannya (zeitgest) tersendiri pada saat itu,
dimana, tidak ada pilihan lain demi kemaslahatan umat. Yang terpenting, karena
Nasionalisme menjadi pilihan umat Islam dalam mempertahankan eksistensinya pada
waktu itu, maka, kita pun sebagai generasi muda setelahnya harus menghormati
pilihan itu. Maka dari itu, penulis mengajak kepada seluruh umat Islam, Mari!, kita
rawat Nasionalisme dan jadikan sebagai amanah tersendiri dar pendahulu kita,
bagi kita sebagai umat Islam setelahnya.
KESIMPULAN
Seiring
dengan munculnya geliat Imperialisme yang dilakukan oleh Barat terhadap Dunia
Islam, Nasiolisme menjadi respon atas itu semua dan menghantarkan negeri-negeri
Islam kepada kebebasan atas Imperialisme dan kemerdekaan. Namun, diluar dari
keberhasilannya menjadi pembendung dan antitesan terhadap Imperialisme,
Nasionalisme sendiri, mendapat berbagai tentangan dari pemuka-pemuka Islam yang
dipandang tidak sejalan dengan semangat Ukhwah Islamiah. Bahkan, Nasionalisme
dianggap sebagai produk yang diimpor dan sengaja diekspor oleh para penguasa
kolonial yakni Barat untuk mengacaukan persatuan di dunia Islam, terkhusus pada
saat itu terhadap kekuasaan Turki Utsmani. Sehingga, hal itu menghasilkan
berbagai opini dan tanggapan bahwa, “apakah Nasionalisme itu berperan sebagai
gerbang menuju kemerdekaan ataukah pengoyak persatuan umat Islam”.
DAFTAR PUSTAKA
Ashaf, M. Arifullah. 2016. “Akar Epistemik Hegemoni Politik Barat Terhadap Nasionalisme di Timur Tengah”. Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan : Jambi.
Sudrajat, Ajat. “Nasionalisme di Dunia Islam”. Prodi Ilmu Sejarah : Universitas Negeri Yogyakarta.
Supriadi, Dedi. 2008. “Sejarah Peradaban Islam”. Pustaka Setia : Bandung.
Tim Riset dan Studi Islam Mesir, 2013, “Ensiklopedia Sejarah Islam”. Pustaka al-Kautsar : Jakarta.
Yatim, Badri. 2014. “Sejarah Peradaban Islam II”. Rajawali Pers : Jakarta.
[1] Mahasiswa
Sejarah Peradaban Islam, UIN Sunan Gunung
Djati Bandung, Email : h3ndro26@gmail.com, @SejarahperadabanIslammodern