Tarumanagara Pelanjut Eksistensi Salakanagara
di Jawa Barat
(Subjektifitas kerajaan paling awal di Jawa Barat)
Abstrak : Dalam sumber referensi sejarah,
khususnya sejarah Indonesia kuno banyak disebutkan bahwa kerajaan yang paling
awal berdiri di pulau Jawa khususnya di Jawa Barat adalah Kerajaan Tarumanagara
pada tahun 358 M oleh Jayasinghawarman. Namun, siapa sangka ternyata jika di
telusuri lebih jauh kebelakang sebenarnya telah ada kerajaan yang berdiri
sebelum Kerajaan Tarumanagara, yaitu Kerajaan Salakanagara yang berdiri sejak
tahun130 M oleh Dewawarman, yang jika secara subyektif dapat dianggap bahwa
kerajaan tersebut merupakan kerajaan yang paling awal berdiri di Jawa Barat khususnya
dan kerajaan tertua yang telah berdiri di Nusantara umumnya. Secara sederhana antara
Tarumanagara dan Salakanagara di Jawa Barat memiliki pengulangan historis yang
hampir serupa dengan Pajang dan Demak di Jawa Tengah, dimana keduanya dapat disimpulkan sebagai
pelanjut dan dipandang sebagai pewaris eksistensi dari kerajaan sebelumya.
Kata Kunci : Salakanagara,
Tarumanagara, Jawa Barat.
Sejarah
merupakan suatu kajian yang berusaha untuk mengungkap segala sesuatu yang dianggap
penting dimasa lalu untuk dijadikan pembelajaran dimasa mendatang, ntah itu berupa
peristiwa atau jejak peradaban dimasa lalu. Salah satu jejek peradaban dimasa
lalu yang telah berhasil di ungkap oleh para sejarawan adalah jejak peradaban
Kerajaan Tarumanagara, yang diperkirakan ada sejak 17 abad tahun yang lalu (Ayatrohaedi,
2005 : 69). Kerajaan Tarumanagara ini telah dianggap sebagai kerajaan yang
paling awal berdiri di kawasan Jawa Barat, dan hal tersebut sudah di kenal
sejak lama, terbukti bahwa jika dilihat dari buku-buku pelajaran sejarah dahulu
dan berdasarkan sejarah-sejarah Indonesia kuno bahwa kerajaan yang paling tua
berdiri di Nusantara adalah Kerajaan Kutai yang terletak di Kalimantan bagian
timur yang berdiri pada abad ke- 4 M, (Eki Putra Wiratama, 2014 : 6) dan
kerajaan yang paling awal berdiri di kawasan Jawa Barat adalah Kerajaan
Tarumanagara yang berdiri pada abad ke-4 M (Ayatrohaedi, 2005 : 69).
Kerajaan
Tarumanagara merupakan kerajaan kuno di Nusantara yang didirikan oleh
Purnawarman (Didik Pradjoko, dkk, 2008 : 26), sedangkan dalam buku Sundakala
karangan Ayatrohaedi, dikatakan bahwa kerajaan Tarumanagara didirikan oleh
Jayasinghawarman pada tahun 385 M dan ia berkuasa selama 24 tahun dengan gelar Jayasinghawarman Gurudharmapurusa
(Ayatrohaedi, 2005 : 69), sedangkan pusat pemerintahannya ditempatkan di
kawasan Sundapura (Bogor sekarang) (Edi Stiadi Putra, 2000 : 29).
Mengenai
pernyataan kerajaan yang paling awal berdiri di Jawa Barat, sejak awal mungkin
Kerajaan Tarumanagara lah yang telah dipandang layak dengan sejumlah bukti
keberadaannya yang ada, seperti Prasasti Ciaruteun, Prasasti Kebon Kopi dan
sejumlah bukti fisik lainnya yang mengungkap keberadaan dan eksistensi dari
Kerajaan Tarumanagara (Sudrajat, 2012 : 6-7). Namun, seiring waktu berjalan
bermunculan pula sejumlah bukti yang memberikan penjelasan dan sanggahan
mengenai Kerajaan yang paling awal berdiri di Jawa Barat, salah satu bukti
tertulis dari penjelasan tersebut adalah “Naskah Pangeran Wangsakerta” yang ditemukan pada pertengahan tahun 1977 M
oleh seorang peneliti yang bernama Drs. Atja. Naskah Pangeran Wangsakerta ini
diperkirakan telah ditulis oleh Kepanitiaan Wangsakerta yang diketuai oleh
Pangeran Wangsakerta sendiri di Cirebon pada abad ke-17 M.
Dalam Naskah Pangeran Wangsakerta tersebut,
dijelaskan mengenai Kerajaan Tarumanagara yang berdiri sejak tahun 358 M,
namun, dalam naskah tersebut juga dijelaskan mengenai kerajaan Salakanagara
yang didirikan oleh Dewawarman pada tahun 130 M dengan pusat pemerintahannya di
Rajatapura (Banten sekarang) (Hj Patimah, 2000 : 566). Kerajaan Salakanagara
mungkin tidak sefamiliar Kerajaan Tarumanagara, itu disebabkan karena kerajaan
Salakanagara sendiri baru di temukan bukti keberadaannya baru-baru ini,
sehingga wajar apabila tidak banyak yang mengenalnya. Namun, pada saat ini
penjelasan dan juga pengungkapan mengenai Kerajaan Salakanagara sendiri sudah
banyak di angkat dan di jadikan bahan-bahan penelitian ilmiah oleh banyak
orang. Seperti salah satunya adalah “Hasil Penelitian Kerajaan Salakanagara”
yang dikaji oleh Dani Prayudhi, dkk yang berjudul “Eksotisme Salakanagara (Teguh
I. Prasetya, dkk, https://teguhimamprasetya.wordpress.com/).
Dalam Naskah Pangeran Wangsakerta kita bisa
menemukan penjelasan bahwa jika di telusuri lebih jauh
kebelakang sebenarnya telah ada kerajaan sebelum Kerajaan Tarumanagara berdiri,
yaitu Kerajaan Salakanagara yang jika secara subyektif dapat dianggap bahwa
kerajaan tersebut merupakan kerajaan yang paling awal berdiri di Jawa Barat
karena bila dilihat dalam rentang waktunya Kerajaan Salakanagara usianya lebih
tua dibanding Kerajaan Tarumanagara. Bahkan jika dilihat dari segi waktu pula,
Kerajaan Salakanagara sendiri lebih tua usianya dibandingkan Kerajaan Kutai yang
ada di Kalimantan Timur dan secara Subjektif pula dapat di simpulkan bahwa
Kerajaan Salakanagara merupakan Kerajaan Tertua di Nusantara melewati batas
usia dari Kerajaan Kutai yang selama ini dianggap sebagai kerajaan tertua.
Mengenai hubungan antara Kerajaan Tarumanagara
dengan Kerajaan Salakanagara, keduanya saling berkaitan. Hal ini disebabkan
karena sebetulnya Kerajaan Tarumanagara merupakan pelanjut eksistensi atau
kebesaran dari Kerajaan Salakanagara sebelum pusat pemerintahannya di pindahkan
dari Rajatapura ke Sundapura oleh Jayasinghawarman dan eksistensinya teralihkan
kepada Tarumanagara dan sampai akhirnya raja dari Kerajaan Salakanagara menjadi
raja bawahan dari Kerajaan Tarumanagara (Ayatrohaedi, 2005 : 59).
Awal
dari sejarah Kerajaan Salakanagara sendiri tidak terlepas dari seseorang
penghulu (datuk) dan penguasa daerah Ujungkulon yang bernama Aki Tirem yang
berasal dari Suwarnabhumi (Sumatera) yang memiliki keturunan dari India (Hj Patimah, 2000 : 37). Beliau memiliki
puteri yang bernama Pwahaci Larasati, yang kemudian di nikahkan dengan
seorang “duta keliling” yang berasal dari India yang menetap di Ujungkulon
yaitu Dewawarman. Kemudian, ketika Aki Tirem sakit parah, beliau menyerahkan
kekuasaan daerahnya kepada Dewawarman, menantunya. Dewawarman tidak menolak
pelimpahan kekuasaan itu, sehingga setelah Aki Tirem meninggal, Dewawarman
mengangkat dirinya sebagai raja dengan nama nobatan Prabhu Dharmalokapala Dewawarman Haji Raksagapurasagara.
Sedangkan isterinya, Pwahaci Larasati, menjadi permaisuri dengan nama Dewi Dhwanirahayu,
sedangkan negara kekuasaannya diberi nama Salakanagara (Ayatrohaedi, 2005 :
60-61). Kerajaan tersebut berkuasa kurang lebih selama 232 tahun dari tahun 130
M-362 M, selama kurun waktu tersebut kerajaan ini diperintah oleh 8 orang raja,
sehingga disebut Dewawarman I dan rajanya yang terakhir disebut Dewawarman VIII
atau Sang Prabhu Dharmawirya Sakalabhuana
(Hj. Patimah, 2000 : 190).
Daerah
kekuasaan Kerajaan Salakanagara meliputi Jawa Barat bagian Barat, termasuk
semua pulau yang terletak di sebelah barat pulau Jawa serta laut yang
memisahkan Jawa dari Suwarnadwipa. Salakanagara merupakan kerajaan yang
menguasai seluruh pesisir dan laut antara dua pulau yaitu sumatera dan Jawa,
sehingga Salakanagara di sebut juga sebagai Gapura Laut (Raksagapurasagara) oleh kebanyakan orang. Perahu yang hilir-mudik
di selat tersebut dari barat ketimur dan sebaliknya, umumnya berlabuh di bandar
Salakanagara. Perahu-perahu tersebut wajib menyerahkan “pajak” kepada
Salakanagara, dan sebagai imbalannya Salakanagara bertanggung jawab atas
keselamatan perahu itu selama berada di wilayahnya. Dari hasil pajak tersebut
Salakanagara berhasil menjadi Negara yang cukup makmur sentosa, terutama pada
masa pemerintahan Dewawarman VIII (Ayatrohaedi, 2005 : 61).
Berakhirnya
kekuasaan Kerajaan Salakanagara diawali dengan kedatangan Jayasinghawarman dari
India pada tahun 348 M yang bertujuan untuk menyelamatkan diri dari kekejaman
Raja Sang Gupta, yang telah menguasai seluruh India. Beliau dan pengikutnya
tiba di pulau Jawa dan menetap di wilayah bagian barat. Di situ beliau
mendirikan dusun di tepi Citarum yang pada waktu itu masih termasuk daerah
kekuasaan Dewawarman VIII dari Kerajaan Salakanagara. Sampai akhirnya Jayasinghawarman
dinikahkan dan dijadikan menantu oleh Dewawarman VIII (Ayatrohaedi, 2005 : 69).
Sekitar
10 tahun kemudian dusun itu berkembang karena banyak penduduk dari tempat lain
menetap di situ. Beberapa tahun kemudian di Dusun itu pun telah berdiri nagara. Jayasinghawarman terus berusaha
memperluas negaranya itu sampai menjadi kerajaan yang lalu diberi nama
Tarumanagara, dengan pusat pemerintahannya di Sundapura yang pada saat itu
sudah berkembang menjadi kota yang besar (Ayatrohaedi, 2005 : 72).
Ketika
Dewawarman VIII (mertuanya) meninggal pada tahun 363M, kedudukannya sebagai
raja Salakanagara digantikan oleh anaknya yang lain. Tetapi karena pada saat
itu Kerajaan Tarumanagara sedang maju kekuasaanya, dan selain itu permaisuri
dari Jayasinghawarman adalah anak pertama dari Dewawarman VIII, sehingga
pewaris kerajaan Salakanagara itu mengakui kedaulatan Tarumanagara atas
negaranya, dan ia menjadi Raja Bawahan dari Kerajaan Tarumanagara dan Kerajaan
Salakanagara sendiri berubah menjadi Kerajaan Daerah yang berada di bawah
kekuasaan Tarumanagara. Dengan demikian, setelah kematian Dewawarman VIII,
sejarah Kerajaan Salakanagara berakhir, dan digantikan oleh Sejarah Kerajaan
Tarumanagara (Ayatrohaedi, 2005 : 69-72). Sehingga, dalam hal ini kita bisa
melihat bahwa sebetulnya Kerajaan Tarumanagara merupakan pelanjut dari Kerajaan
Salakanagaara.
Kerajaan
Salakanagara sendiri meninggalkan beberapa peninggalan bersejarah yang menjadi
dasar pembuktian dan pembenaran mengenai adanya peradaban Salakanagara, yaitu
Menhir Cihunjuran, Situs Batu Ranjang, Jam Salakanagara atau Jam Sunda dan
lainnya (Wawan Surya, http://mitra-sbm.blogspot.com/).
Pada
masa transisi kekuasaan antara Kerajaan Salakanagara menuju Kerajaan
Tarumanagara membuat beberapa perubahan dalam
kehidupan masyarakat Sunda dan kerajaan, baik dalam lingkup kepercayaan
maupun ekonomi. Dalam lingkup kepercayaan pada masa kekuasaan Kerajaan
Salakanagara, kepercayaan yang dianut pada masa itu adalah kepercayaan
Hindu-Hyang, yaitu asimilasi antara ajaran Hindu dengan ajaran Pitarapuja Jati Sunda atau Sunda Wiwitan, yang memuja Sang Hyang
(roh nenekmoyang), yang memiliki pengaruh dan kedudukannya jauh lebih
tinggi dari pada dewa-dewa Hinduisme (Edi Stiadi Putra, 2000 : 29). Sedangkan,
pada masa kekuasaan Kerajaan Tarumanagara, kepercayaan yang dianut pada masa
itu adalah kepercayaa Hindu Waesnawa atau Hindu Wisnu, dimana dalam
kepercayaan ini Dewa Wisnu dianggap sebagai Dewa tertinggi (Puji Lestari, http://pujel.blogspot.co.id/).
Dalam
bidang ekonomi dan mata pencaharian masyarakat Sunda pada masa Salakanagara
sebagian besar merupakan masyarakat ‘Pamayang’
(nelayan), itu dikarenakan Kerajaan Salakanagara merupakan negara maritim
pertama yang berdaulat atas lalulintas samudera di kawasan Nusantara, yang
berperan sebagai Gerbang Lautan (raksagapurasagara).
Selain itu banyak masyarakat sunda yang menguasai bidang ilmu metalurgi atau
ilmu logam, banyak yang menjadi ahli pembuat perhiasan dan penempa. Hal ini di
kaitkan dengan penamaan Salakanagara sendiri yang berarti negeri perak dan yang
beribu kota di kawasan kota pelabuhan merak (berarti membuat perak) dan
Pandeglang (berasal dari kata Panday Gelang atau para ahli perhiasan) (Edi
Stiadi Putra, 2000 : 29). Sedangkan, pada masa kekuasaan Kerajaan Tarumanagara sebagian
besar penduduknya hidup sebagai ‘panyawah’
(petani sawah) karena desa-desa kawasan Tarumanagara terletak di kawasan aliran
sungai. Pada masa ini, disebutkan dalam prasasti Pasir Jambu tentang kemampuan
Tarumanagara dalam membuat kanal atau jaringan irigasi untuk mengairi sawah-sawah
(Edi Stiadi Putra, 2000 : 29).
Dalam
hal ini, pembahsan mengenai Kerajaan Tarumanagara sebagai pelanjut eksistensi Kerajaan
Salakanagara di Jawa Barat, secara sederhananya, kita bisa mengambil contoh dari sejarah berdirinya kerajaan Demak
dan Pajang di Jawa Tengah. Mengenai keduanya, bisa dibilang memiliki
pengulangan historis yang hampir serupa dimana antara Tarumanagara dan
Salakanagaara bisa dipandang sama dengan Pajang dan Demak, dimana Kesultanan
Pajang adalah sebagai pelanjut dan dipandang sebagai pewaris eksistensi dari Kerajaan
Islam Demak di Jawa Tengah (Badri Yatim, 2014 : 212), dan bugitupun demikian
antara Kerajaan Tarumanagara dan Kerajaan Salakanagara di Jawa Barat.
Kesimpulan
Selama
ini dengan merujuk kepada sumber referensi sejarah yang ada terutama sejarah Indonesia
kuno, banyak disebutkan bahwa kerajaan yang paling awal berdiri di Jawa Barat
adalah Kerajaan Tarumanagara, dengan sejumlah data dan bukti-bukti yang ada.
Namun, akhir-akhir ini seiring dengan perkembangan waktu dan sejarah pun terus
bergulir, ditemukan beberapa sumber yang membahas hal tersebut bahkan
menyanggah pernyataan tersebut. Salah satu sumber sejarah yang berhasil
ditemukan adalah “Naskah Pangeran Wangsakerta” yang ditulis di Cirebon pada
abad ke-17 M. Dalam naskah tersebut dijelaskan sejarah Kerajaan Tarumanagara
yang berdiri pada tahun 358 M, dan selain itu juga dijelaskan mengenai Kerajaan
Salakanagara yang berdiri pada tahun 130 M dengan pusan pemerintahannya di
Rajatapura (Banten sekarang). Maka dalam hal ini, secara subjektif dapat
disimpulkan bahwa Kerajaan Salakanagara merupakan kerajaan yang paling awal
berdiri dan tertua di Nusantara dan Jawa Barat khususnya. secara sederhananya,
kita bisa mengambil contoh dari sejarah
berdirinya kerajaan Demak dan Pajang di Jawa Tengah. Mengenai keduanya, bisa
dibilang memiliki pengulangan historis yang hampir serupa dimana antara
Tarumanagara dan Salakanagaara bisa dipandang sama dengan Pajang dan Demak,
dimana Kesultanan Pajang adalah sebagai pelanjut dan dipandang sebagai pewaris
eksistensi Kerajaan Islam Demak di Jawa Tengah, dan bugitupun demikian antara
Kerajaan Tarumanagara dan Kerajaan Salakanagara di Jawa Barat.
DAFTAR PUSTAKA
Ayatrohaedi. 2005. Sundakala
: Cuplikan Sejarah Sunda Berdasarkan Naskah-Naskah Panitia Wangsakerta Cirebon.
Jakarta : PT. Pustakajaya.
Patimah, Hj. 2000. Ensiklopedi
Sunda - Alam, Manusia dan Budaya – Termasuk Budaya Cirebon dan Betawi.
Jakarta : PT. Dunia Pustaka.
Yatim, Badri. 2014. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta :
Rajawali Pers.
Setiadi Putra, Edi.
2011. Interpretasi Visual terhadap Bentuk
dan Fungsi Kujang Huma Pamangkas dengan Uji ANOVA (Analysis Of Variance) dan
VAS (Visual Analog Scale). Jurnal Itenas Rekapura. Institut Teknologi
Nasional.
Sudrajat. 2012. Diktat Kuliah Sejarah Indonesia Masa Hindu
Budha. Jurusan Pendidikan Sejarah. Universitas Negeri Yogyakarta.
Didik Pradjoko, dkk.
2008. Modul I Sejarah Indonesia : Hibah Modul Pengajaran : Content Development Tema B1. Program
Hibah Kompetisi Berbasis Institusi (PHK-I). Universitas Indonesia Depok.
Putra Wiratama, Eki.
2014. Kesultanan Kutai Kertanegara :
Perkembangan Islam di Indonesia. Makalah non-Seminar Program Study Arab.
Universitas Indonesia Depok.
Teguh I. Prasetya, dkk.
Eksotisme Salakanagara.
Wordpress.com, di akses melalui https://teguhimamprasetya.wordpress.com/, pada tanggal 4 Juni, pukul 05:44 WIB.
Surya, Wawan. Kerajaan Salakanagara Lengkap.
Blogger.com, di akses melalui http://mitra-sbm.blogspot.com/,
pada tanggal 4 Juni 2017, pukul 11:30 WIB.
Lestari, Puji. Kehidupan Kerajaan Tarumanagara.
Blogger.com, di akses melalui
http://pujel.blogspot.co.id/, pada tanggal 4 Juni 2017, pukul 11:33
WIB.
[1]
Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam, UIN Sunan
Gunung Djati Bandung, Email : h3ndro26@gmail.com, @SejarahIslamsunda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar