Rabu, 30 Agustus 2017

TARUMANAGARA PELANJUT EKSISTENSI SALAKANAGARA DI JAWA BARAT



Tarumanagara Pelanjut Eksistensi Salakanagara di Jawa Barat
(Subjektifitas kerajaan paling awal di Jawa Barat)
Hendro Kartika Juniawan[1]

Abstrak : Dalam sumber referensi sejarah, khususnya sejarah Indonesia kuno banyak disebutkan bahwa kerajaan yang paling awal berdiri di pulau Jawa khususnya di Jawa Barat adalah Kerajaan Tarumanagara pada tahun 358 M oleh Jayasinghawarman. Namun, siapa sangka ternyata jika di telusuri lebih jauh kebelakang sebenarnya telah ada kerajaan yang berdiri sebelum Kerajaan Tarumanagara, yaitu Kerajaan Salakanagara yang berdiri sejak tahun130 M oleh Dewawarman, yang jika secara subyektif dapat dianggap bahwa kerajaan tersebut merupakan kerajaan yang paling awal berdiri di Jawa Barat khususnya dan kerajaan tertua yang telah berdiri di Nusantara umumnya. Secara sederhana antara Tarumanagara dan Salakanagara di Jawa Barat memiliki pengulangan historis yang hampir serupa dengan Pajang dan Demak di Jawa Tengah,  dimana keduanya dapat disimpulkan sebagai pelanjut dan dipandang sebagai pewaris eksistensi dari kerajaan sebelumya.
Kata Kunci : Salakanagara, Tarumanagara, Jawa Barat.
Sejarah merupakan suatu kajian yang berusaha untuk mengungkap segala sesuatu yang dianggap penting dimasa lalu untuk dijadikan pembelajaran dimasa mendatang, ntah itu berupa peristiwa atau jejak peradaban dimasa lalu. Salah satu jejek peradaban dimasa lalu yang telah berhasil di ungkap oleh para sejarawan adalah jejak peradaban Kerajaan Tarumanagara, yang diperkirakan ada sejak 17 abad tahun yang lalu (Ayatrohaedi, 2005 : 69). Kerajaan Tarumanagara ini telah dianggap sebagai kerajaan yang paling awal berdiri di kawasan Jawa Barat, dan hal tersebut sudah di kenal sejak lama, terbukti bahwa jika dilihat dari buku-buku pelajaran sejarah dahulu dan berdasarkan sejarah-sejarah Indonesia kuno bahwa kerajaan yang paling tua berdiri di Nusantara adalah Kerajaan Kutai yang terletak di Kalimantan bagian timur yang berdiri pada abad ke- 4 M, (Eki Putra Wiratama, 2014 : 6) dan kerajaan yang paling awal berdiri di kawasan Jawa Barat adalah Kerajaan Tarumanagara yang berdiri pada abad ke-4 M (Ayatrohaedi, 2005 : 69).
Kerajaan Tarumanagara merupakan kerajaan kuno di Nusantara yang didirikan oleh Purnawarman (Didik Pradjoko, dkk, 2008 : 26), sedangkan dalam buku Sundakala karangan Ayatrohaedi, dikatakan bahwa kerajaan Tarumanagara didirikan oleh Jayasinghawarman pada tahun 385 M dan ia berkuasa selama 24 tahun dengan gelar Jayasinghawarman Gurudharmapurusa (Ayatrohaedi, 2005 : 69), sedangkan pusat pemerintahannya ditempatkan di kawasan Sundapura (Bogor sekarang) (Edi Stiadi Putra, 2000 : 29).
Mengenai pernyataan kerajaan yang paling awal berdiri di Jawa Barat, sejak awal mungkin Kerajaan Tarumanagara lah yang telah dipandang layak dengan sejumlah bukti keberadaannya yang ada, seperti Prasasti Ciaruteun, Prasasti Kebon Kopi dan sejumlah bukti fisik lainnya yang mengungkap keberadaan dan eksistensi dari Kerajaan Tarumanagara (Sudrajat, 2012 : 6-7). Namun, seiring waktu berjalan bermunculan pula sejumlah bukti yang memberikan penjelasan dan sanggahan mengenai Kerajaan yang paling awal berdiri di Jawa Barat, salah satu bukti tertulis dari penjelasan tersebut adalah “Naskah Pangeran Wangsakerta” yang ditemukan pada pertengahan tahun 1977 M oleh seorang peneliti yang bernama Drs. Atja. Naskah Pangeran Wangsakerta ini diperkirakan telah ditulis oleh Kepanitiaan Wangsakerta yang diketuai oleh Pangeran Wangsakerta sendiri di Cirebon pada abad ke-17 M.
Dalam Naskah Pangeran Wangsakerta tersebut, dijelaskan mengenai Kerajaan Tarumanagara yang berdiri sejak tahun 358 M, namun, dalam naskah tersebut juga dijelaskan mengenai kerajaan Salakanagara yang didirikan oleh Dewawarman pada tahun 130 M dengan pusat pemerintahannya di Rajatapura (Banten sekarang) (Hj Patimah, 2000 : 566). Kerajaan Salakanagara mungkin tidak sefamiliar Kerajaan Tarumanagara, itu disebabkan karena kerajaan Salakanagara sendiri baru di temukan bukti keberadaannya baru-baru ini, sehingga wajar apabila tidak banyak yang mengenalnya. Namun, pada saat ini penjelasan dan juga pengungkapan mengenai Kerajaan Salakanagara sendiri sudah banyak di angkat dan di jadikan bahan-bahan penelitian ilmiah oleh banyak orang. Seperti salah satunya adalah “Hasil Penelitian Kerajaan Salakanagara” yang dikaji oleh Dani Prayudhi, dkk yang berjudul “Eksotisme Salakanagara (Teguh I. Prasetya, dkk, https://teguhimamprasetya.wordpress.com/).
Dalam Naskah Pangeran Wangsakerta kita bisa menemukan penjelasan bahwa jika di telusuri lebih jauh kebelakang sebenarnya telah ada kerajaan sebelum Kerajaan Tarumanagara berdiri, yaitu Kerajaan Salakanagara yang jika secara subyektif dapat dianggap bahwa kerajaan tersebut merupakan kerajaan yang paling awal berdiri di Jawa Barat karena bila dilihat dalam rentang waktunya Kerajaan Salakanagara usianya lebih tua dibanding Kerajaan Tarumanagara. Bahkan jika dilihat dari segi waktu pula, Kerajaan Salakanagara sendiri lebih tua usianya dibandingkan Kerajaan Kutai yang ada di Kalimantan Timur dan secara Subjektif pula dapat di simpulkan bahwa Kerajaan Salakanagara merupakan Kerajaan Tertua di Nusantara melewati batas usia dari Kerajaan Kutai yang selama ini dianggap sebagai kerajaan tertua.
Mengenai hubungan antara Kerajaan Tarumanagara dengan Kerajaan Salakanagara, keduanya saling berkaitan. Hal ini disebabkan karena sebetulnya Kerajaan Tarumanagara merupakan pelanjut eksistensi atau kebesaran dari Kerajaan Salakanagara sebelum pusat pemerintahannya di pindahkan dari Rajatapura ke Sundapura oleh Jayasinghawarman dan eksistensinya teralihkan kepada Tarumanagara dan sampai akhirnya raja dari Kerajaan Salakanagara menjadi raja bawahan dari Kerajaan Tarumanagara (Ayatrohaedi, 2005 : 59).
Awal dari sejarah Kerajaan Salakanagara sendiri tidak terlepas dari seseorang penghulu (datuk) dan penguasa daerah Ujungkulon yang bernama Aki Tirem yang berasal dari Suwarnabhumi (Sumatera) yang memiliki keturunan dari India (Hj Patimah, 2000 : 37). Beliau memiliki puteri yang bernama Pwahaci Larasati, yang kemudian di nikahkan dengan seorang “duta keliling” yang berasal dari India yang menetap di Ujungkulon yaitu Dewawarman. Kemudian, ketika Aki Tirem sakit parah, beliau menyerahkan kekuasaan daerahnya kepada Dewawarman, menantunya. Dewawarman tidak menolak pelimpahan kekuasaan itu, sehingga setelah Aki Tirem meninggal, Dewawarman mengangkat dirinya sebagai raja dengan nama nobatan Prabhu Dharmalokapala Dewawarman Haji Raksagapurasagara. Sedangkan isterinya, Pwahaci Larasati, menjadi permaisuri dengan nama Dewi Dhwanirahayu, sedangkan negara kekuasaannya diberi nama Salakanagara (Ayatrohaedi, 2005 : 60-61). Kerajaan tersebut berkuasa kurang lebih selama 232 tahun dari tahun 130 M-362 M, selama kurun waktu tersebut kerajaan ini diperintah oleh 8 orang raja, sehingga disebut Dewawarman I dan rajanya yang terakhir disebut Dewawarman VIII atau Sang Prabhu Dharmawirya Sakalabhuana (Hj. Patimah, 2000 : 190).
Daerah kekuasaan Kerajaan Salakanagara meliputi Jawa Barat bagian Barat, termasuk semua pulau yang terletak di sebelah barat pulau Jawa serta laut yang memisahkan Jawa dari Suwarnadwipa. Salakanagara merupakan kerajaan yang menguasai seluruh pesisir dan laut antara dua pulau yaitu sumatera dan Jawa, sehingga Salakanagara di sebut juga sebagai Gapura Laut (Raksagapurasagara) oleh kebanyakan orang. Perahu yang hilir-mudik di selat tersebut dari barat ketimur dan sebaliknya, umumnya berlabuh di bandar Salakanagara. Perahu-perahu tersebut wajib menyerahkan “pajak” kepada Salakanagara, dan sebagai imbalannya Salakanagara bertanggung jawab atas keselamatan perahu itu selama berada di wilayahnya. Dari hasil pajak tersebut Salakanagara berhasil menjadi Negara yang cukup makmur sentosa, terutama pada masa pemerintahan Dewawarman VIII (Ayatrohaedi, 2005 : 61).
Berakhirnya kekuasaan Kerajaan Salakanagara diawali dengan kedatangan Jayasinghawarman dari India pada tahun 348 M yang bertujuan untuk menyelamatkan diri dari kekejaman Raja Sang Gupta, yang telah menguasai seluruh India. Beliau dan pengikutnya tiba di pulau Jawa dan menetap di wilayah bagian barat. Di situ beliau mendirikan dusun di tepi Citarum yang pada waktu itu masih termasuk daerah kekuasaan Dewawarman VIII dari Kerajaan Salakanagara. Sampai akhirnya Jayasinghawarman dinikahkan dan dijadikan menantu oleh Dewawarman VIII (Ayatrohaedi, 2005 : 69).
Sekitar 10 tahun kemudian dusun itu berkembang karena banyak penduduk dari tempat lain menetap di situ. Beberapa tahun kemudian di Dusun itu pun telah berdiri nagara. Jayasinghawarman terus berusaha memperluas negaranya itu sampai menjadi kerajaan yang lalu diberi nama Tarumanagara, dengan pusat pemerintahannya di Sundapura yang pada saat itu sudah berkembang menjadi kota yang besar (Ayatrohaedi, 2005 : 72).
Ketika Dewawarman VIII (mertuanya) meninggal pada tahun 363M, kedudukannya sebagai raja Salakanagara digantikan oleh anaknya yang lain. Tetapi karena pada saat itu Kerajaan Tarumanagara sedang maju kekuasaanya, dan selain itu permaisuri dari Jayasinghawarman adalah anak pertama dari Dewawarman VIII, sehingga pewaris kerajaan Salakanagara itu mengakui kedaulatan Tarumanagara atas negaranya, dan ia menjadi Raja Bawahan dari Kerajaan Tarumanagara dan Kerajaan Salakanagara sendiri berubah menjadi Kerajaan Daerah yang berada di bawah kekuasaan Tarumanagara. Dengan demikian, setelah kematian Dewawarman VIII, sejarah Kerajaan Salakanagara berakhir, dan digantikan oleh Sejarah Kerajaan Tarumanagara (Ayatrohaedi, 2005 : 69-72). Sehingga, dalam hal ini kita bisa melihat bahwa sebetulnya Kerajaan Tarumanagara merupakan pelanjut dari Kerajaan Salakanagaara.
Kerajaan Salakanagara sendiri meninggalkan beberapa peninggalan bersejarah yang menjadi dasar pembuktian dan pembenaran mengenai adanya peradaban Salakanagara, yaitu Menhir Cihunjuran, Situs Batu Ranjang, Jam Salakanagara atau Jam Sunda dan lainnya (Wawan Surya, http://mitra-sbm.blogspot.com/).
Pada masa transisi kekuasaan antara Kerajaan Salakanagara menuju Kerajaan Tarumanagara membuat beberapa perubahan dalam  kehidupan masyarakat Sunda dan kerajaan, baik dalam lingkup kepercayaan maupun ekonomi. Dalam lingkup kepercayaan pada masa kekuasaan Kerajaan Salakanagara, kepercayaan yang dianut pada masa itu adalah kepercayaan Hindu-Hyang, yaitu asimilasi antara ajaran Hindu dengan ajaran Pitarapuja Jati Sunda atau Sunda Wiwitan, yang memuja Sang Hyang (roh nenekmoyang), yang memiliki pengaruh dan kedudukannya jauh lebih tinggi dari pada dewa-dewa Hinduisme (Edi Stiadi Putra, 2000 : 29). Sedangkan, pada masa kekuasaan Kerajaan Tarumanagara, kepercayaan yang dianut pada masa itu adalah kepercayaa Hindu Waesnawa atau Hindu Wisnu, dimana dalam kepercayaan ini Dewa Wisnu dianggap sebagai Dewa tertinggi (Puji Lestari, http://pujel.blogspot.co.id/).
Dalam bidang ekonomi dan mata pencaharian masyarakat Sunda pada masa Salakanagara sebagian besar merupakan masyarakat ‘Pamayang’ (nelayan), itu dikarenakan Kerajaan Salakanagara merupakan negara maritim pertama yang berdaulat atas lalulintas samudera di kawasan Nusantara, yang berperan sebagai Gerbang Lautan (raksagapurasagara). Selain itu banyak masyarakat sunda yang menguasai bidang ilmu metalurgi atau ilmu logam, banyak yang menjadi ahli pembuat perhiasan dan penempa. Hal ini di kaitkan dengan penamaan Salakanagara sendiri yang berarti negeri perak dan yang beribu kota di kawasan kota pelabuhan merak (berarti membuat perak) dan Pandeglang (berasal dari kata Panday Gelang atau para ahli perhiasan) (Edi Stiadi Putra, 2000 : 29). Sedangkan, pada masa kekuasaan Kerajaan Tarumanagara sebagian besar penduduknya hidup sebagai ‘panyawah’ (petani sawah) karena desa-desa kawasan Tarumanagara terletak di kawasan aliran sungai. Pada masa ini, disebutkan dalam prasasti Pasir Jambu tentang kemampuan Tarumanagara dalam membuat kanal atau jaringan irigasi untuk mengairi sawah-sawah (Edi Stiadi Putra, 2000 : 29).
Dalam hal ini, pembahsan mengenai Kerajaan Tarumanagara sebagai pelanjut eksistensi Kerajaan Salakanagara di Jawa Barat, secara sederhananya, kita bisa mengambil  contoh dari sejarah berdirinya kerajaan Demak dan Pajang di Jawa Tengah. Mengenai keduanya, bisa dibilang memiliki pengulangan historis yang hampir serupa dimana antara Tarumanagara dan Salakanagaara bisa dipandang sama dengan Pajang dan Demak, dimana Kesultanan Pajang adalah sebagai pelanjut dan dipandang sebagai pewaris eksistensi dari Kerajaan Islam Demak di Jawa Tengah (Badri Yatim, 2014 : 212), dan bugitupun demikian antara Kerajaan Tarumanagara dan Kerajaan Salakanagara di Jawa Barat.

Kesimpulan
Selama ini dengan merujuk kepada sumber referensi sejarah yang ada terutama sejarah Indonesia kuno, banyak disebutkan bahwa kerajaan yang paling awal berdiri di Jawa Barat adalah Kerajaan Tarumanagara, dengan sejumlah data dan bukti-bukti yang ada. Namun, akhir-akhir ini seiring dengan perkembangan waktu dan sejarah pun terus bergulir, ditemukan beberapa sumber yang membahas hal tersebut bahkan menyanggah pernyataan tersebut. Salah satu sumber sejarah yang berhasil ditemukan adalah “Naskah Pangeran Wangsakerta” yang ditulis di Cirebon pada abad ke-17 M. Dalam naskah tersebut dijelaskan sejarah Kerajaan Tarumanagara yang berdiri pada tahun 358 M, dan selain itu juga dijelaskan mengenai Kerajaan Salakanagara yang berdiri pada tahun 130 M dengan pusan pemerintahannya di Rajatapura (Banten sekarang). Maka dalam hal ini, secara subjektif dapat disimpulkan bahwa Kerajaan Salakanagara merupakan kerajaan yang paling awal berdiri dan tertua di Nusantara dan Jawa Barat khususnya. secara sederhananya, kita bisa mengambil  contoh dari sejarah berdirinya kerajaan Demak dan Pajang di Jawa Tengah. Mengenai keduanya, bisa dibilang memiliki pengulangan historis yang hampir serupa dimana antara Tarumanagara dan Salakanagaara bisa dipandang sama dengan Pajang dan Demak, dimana Kesultanan Pajang adalah sebagai pelanjut dan dipandang sebagai pewaris eksistensi Kerajaan Islam Demak di Jawa Tengah, dan bugitupun demikian antara Kerajaan Tarumanagara dan Kerajaan Salakanagara di Jawa Barat.



DAFTAR PUSTAKA
Ayatrohaedi. 2005. Sundakala : Cuplikan Sejarah Sunda Berdasarkan Naskah-Naskah Panitia Wangsakerta Cirebon. Jakarta : PT. Pustakajaya.
Patimah, Hj. 2000. Ensiklopedi Sunda - Alam, Manusia dan Budaya – Termasuk Budaya Cirebon dan Betawi. Jakarta : PT. Dunia Pustaka.
Yatim, Badri. 2014. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta : Rajawali Pers.
Setiadi Putra, Edi. 2011. Interpretasi Visual terhadap Bentuk dan Fungsi Kujang Huma Pamangkas dengan Uji ANOVA (Analysis Of Variance) dan VAS (Visual Analog Scale). Jurnal Itenas Rekapura. Institut Teknologi Nasional.
Sudrajat. 2012. Diktat Kuliah Sejarah Indonesia Masa Hindu Budha. Jurusan Pendidikan Sejarah. Universitas Negeri Yogyakarta.
Didik Pradjoko, dkk. 2008.  Modul I Sejarah Indonesia : Hibah Modul Pengajaran :  Content Development Tema B1. Program Hibah Kompetisi Berbasis Institusi (PHK-I). Universitas Indonesia Depok.
Putra Wiratama, Eki. 2014. Kesultanan Kutai Kertanegara : Perkembangan Islam di Indonesia. Makalah non-Seminar Program Study Arab. Universitas Indonesia Depok.
Teguh I. Prasetya, dkk. Eksotisme Salakanagara. Wordpress.com, di akses melalui https://teguhimamprasetya.wordpress.com/, pada tanggal 4 Juni, pukul 05:44 WIB.
Surya, Wawan. Kerajaan Salakanagara Lengkap. Blogger.com, di akses melalui http://mitra-sbm.blogspot.com/, pada tanggal 4 Juni 2017, pukul 11:30 WIB.

Lestari, Puji. Kehidupan Kerajaan Tarumanagara. Blogger.com, di akses melalui http://pujel.blogspot.co.id/, pada tanggal 4 Juni 2017, pukul 11:33 WIB.


[1] Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Email : h3ndro26@gmail.com, @SejarahIslamsunda.

Tidak ada komentar: