ADMIRAL MUSLIM KHAIRUDDIN BARBAROSSA
(Distorsi
Sejarah Tokoh Muslim Legendaris)
Hendro
Kartika Juniawan[1]
Abstrak
: Khairuddin Barbarossa adalah seorang
Admiral Islam yang paling masyhur, terutama pada masa pemerintahan Kesultanan
Turki Utsmani pada pertengahan periode Islam. Banyak sekali prestasi dan jasa
yang telah di torehkan olehnya terutama untuk membela Islam melalui jalur
perairan atau laut. Ia berhasil menjadi seorang admiral laut yang di segani dan
di takuti oleh Barat, walaupun dimasa mendatang namanya akan berusaha di
pudarkan dari benak kaum muslimin sebagai Bajak Laut atau Perompak yang
berkonotasi negative.
Kata Kunci
: Khairuddin Barbarossa, Admiral Laut Islam, Bajak Laut, Turki Utsmani.
Di
masa modern ini siapa yang tidak kenal dengan sebutan Bajak Laut (lanun) yaitu sekelompok orang atau
individu yang melakukan kegiatan perampokan di wilayah perairan atau laut yang
secara paksa menjarah dan merampas semua barang berharga yang dimiliki para
nelayan, pedagang dan semua aktivitas kapal di perairan, yang dipandang
menguntungkan yang tentunya berada diwilayah kekuasaan mereka. Jika pada masa
sekarang ini, kita mendengar kata Bajak Laut, pastilah akan berprasangka dan
menimbulkan konotasi yang buruk atau negative pada benak pikiran kita. Dan
dalam sejarah, ternyata Islam memiliki seorang Bajak Laut, namun tak pantas
untuk dipanggil sebagai seorang Bajak Laut karena ia lebih dari itu, ia adalah
Khoiruddin Barbarossa yang merupakan Admiral Kesultanan Turki Utsmani yang
memiliki jiwa pemberani dan cakap. Ia merupakan komandan dari semua armada laut
atau militer angkatan laut yang dimiliki oleh Kesultanan Turki Utsmani pada
pertengahan periode Islam (Hamka, 2016 : 447).
Khairuddin
pada masa dahulunya adalah seorang bajak laut (lanun) Yunani yang dibawa oleh ayahnya datang berkhidmat kepada
sultan dan memeluk agama Islam. keahliannya serta kecakapannya dalam persoalan
kelautan telah menaikan wibawanya dalam kerajaan sehingga akhirnya ia mendapat
keparcayaan dan pangkat yang tinggi (Hamka, 2016 : 477). Namun, dalam sumber
lain dikatakan bahwa Khairuddin merupakan seorang kepala keprajuritan yang
mengadakan operasi di luar wilayah Tunisia, untuk mengambil alih Aljazair pada
tahun 1529 M. Lalu bergabung dengan kesultanan Turki Utsmani dan di angkat
sebagai laksamana tinggi bagi armada laut Turki Utsmani (Dwi Ratnasari, 2013 :
82).
Pada
masa pemerintahan Sultan Sulaiman I di susunlah armada angkatan laut Turki
Utsmani dibawah pimpinan Laksamana Khairuddin Pasya, yang lebih dikenal dengan
gelar Barbarossa atau si janggut merah
(Hamka, 2016 : 447). Pada abad ke-16 M, angkatan laut Turki Utsmani dengan
Admiralnya yang cakap dan tangguh mencapai puncak kejayaannya (Badri Yatim,
2014 : 135), dan sangat di segani serta ditakuti oleh Barat terutama oleh
armada laut Spanyol, Genoa dan Valentina (Dwi Ratnasari, 2013 : 84). Pada masa
Sultan Sulaiman I kekuatan armada laut Kesultanan Turki Utsmani mencapai sebesar
3.000 kapal perang yang dapat mengawasi perairan Laut Saved, Andriantik,
Marmora, Azaq, Laut Hitam, Laut Merah dan Laut Tengah. Kekuatan tersebut
merupakan kekuatan armada raksaksa yang tidak bisa ditandingi oleh Eropa pada
waktu itu (Ading Kusdiana, 2013 : 132).
Khairuddin
Barbarossa memiliki peranan yang signifikan dalam kemiliteran Turki Utsmani, terutama
dalam angkatan laut dan kemaritiman. Ia membantu Sultan Sulaiman I menghadapi
orang-orang Spanyol serta menyelamatkan ribuan muslim Spanyol dari kekejaman
Kristen Eropa. Dimana pada tahun 935 H/1529 M, kapal-kapal laut Turki Utsmani
diberangkatkan menuju Spanyol untuk mengangkut 7000 Muslim Spanyol yang diburu
oleh pemerintah Kristen Spanyol untuk dibunuh, dipaksa masuk Kristen atau
dijadikan budak (Hilfah Soultansyah, 2014 : 5).
Khoiruddin Barbarosa juga berperan dalam
menghadapi serangan orang-orang Spanyol di Laut Mediterania. Spanyol menderita
kerugian yang sangat besar karena kalah dalam pertempuran tersebut. Dan
penderitaan terbesar aliansi Kristen adalah dalam Perang Preveza pada tahun 945
H/1538 M yang berhasil di kalahkan oleh pasukan muslim dengan dipimpin oleh
Admiral lautnya yang cakap (si Barbarossa). Khoiruddin Barbarosa juga dipercaya
dalam membangun kerja sama militer dengan Prancis saat membebaskan Kota Nice
pada tahun 950 H/1543 M. Hasil dari kerja sama ini adalah Turki Utsmani
diberikan kekuasaan atas kota pelabuhan Toulon. Dan Kota Toulon pun menjadi
basis militer dan pelabuhan Kesultanan Turki Utsmani di Laut Mediterania bagian
barat (Hilfah Soultansyah, 2014 : 5).
Jika
dilihat dalam sejarah, kita dapat melihat betapa berjasanya dan betapa pentingnya
posisi serta peranan Khairuddin Barbarossa bagi umat Islam, terutama bagi
Kesultanan Turki Utsmani pada saat itu, yang mana dengan kecakapan dan
keahliannya, armada laut Turki Utsmani dapat disegai dan bahkan ditakuti oleh Barat.
Namun, belakangan ini umat Islam sudah banyak melupakan sejarahnya, mereka
tidak menyadari bahwa tokoh Admiral legendaris Islam mereka yang telah berjasa
itu telah berusaha di pudarkan dan dirusak nama serta wibawanya oleh Barat.
Distorsi sejarah yang dilakukan oleh Barat sangatlah halus, sehingga kita
sebagai targetnya tidak menyadari hal tersebut. Mereka melakukan pen-distorsian
sejarah melalui sarana hiburan, salah satunya melalui peroduksi film. Dimana
mereka berusaha merubah tokoh faktual Islam yang begitu berjasa bagi umat
Islam, menjadi tokoh fiksi yang dirubah citra serta karakternya. Hal ini
dimaksudkan agar umat muslim lupa bahwa dahulu mereka pernah memiliki seorang
tokoh admiral laut yang sangat cakap dan tangguh bahkan ditakuti oleh Barat.
Dalam
berbagai film yang diprosuksi oleh Barat, menggambarkan Khairuddin Barbarossa
yang merupakan komandan armada laut Turki Utsmani yang cakap, tangguh dan bijak
sana, digambarkan sebagai seorang bajak laut yang kejam dan juga licik.
Contohnya seperti dalam film Pirates of Carribean (2003), One Piece (1998) serta
yang lainnya. Tentu jika kita melihat dalam literatur sejarah, cerita dalam
film tersebut sangat berbenturan dengan fakta sejarah. Meskipun film tersebut
di kategorikan ke dalam film-film fiksi, namun pengambilan tema dan tokoh dari
film tersebut merupakan sejarah yang benar-benar pernah terjadi, dan itu
merupakan hal yang kurang layak karena mengaburkan fakta sejarah dan akhirnya
dapat mempengaruhi ke alam bawah sadar masyarakat bahwa yang ditayangkan film
tersebut merupakan sejarah yang dapat dibenarkan (M. Ryan Hafiez, 2016 : 41).
Sehingga
saat ini, umat Islam perlu bersikap kritis dan membuka mata serta hati untuk
tidak bersikap apatis atau acuh tak acuh terhadap segala hal yang terjadi di
kehidupan kita ini, terutama menyangkut mengenai agama kita agama Islam. Dan
terutama kita umat Islam harus melek
sejarah dan berusaha untuk mempelajari sejarah agar tidak dapat di bodohi dan
dibohongi oleh mereka (Barat) yang ingin merusak sejarah kegemilangan dan kejayaan
kita dimasa lalu.
Satu hal yang dirasa cocok untuk umat Islam
hari ini adalah Kalimat “Bangun setelah itu Bangkit”, mari bangun dari tidur
panjang nan lelap kita, mulailah untuk bangkit mengejar ketertinggalan kita,
kita mampu dan kita pasti bisa mengulang sejarah kejayaan dan kegemilangan kita
seperti dimasa lalu. Satu hal yang patut di camkan bagi umat Islam bahwa
sejarah itu penting karena sejarah menurut Bambang Purwanto, “bukan hanya
sekedar ilmu atau kerja intelektual, namun sejarah juga adalah sebagai
ideologi”.
KESIMPULAN
Dalam
sejarah kita memiliki seorang “Admiral Muslim Legendaris” yang berperan sangat
penting dalam angkatan laut Kesultanan Turki Utsmani, ia merupakan Khairuddin
Barbarossa yang merupakan seorang Admiral armada laut Turki Utsmani. Ia
merupakan figur yang sangat cakap, tangguh dan bijaksana, sehingga pantaslah
dengan peranannya, armada laut Turki Utsmani menjadi sangat di segani bahkan
ditakuti oleh lawan-lawannya (Barat). Banyak sekali pengaruh dan peranannya
yang sangat signifikan bagi Kesultanan Turki Utsmani. Namun, pada hari ini
barat melakukan propaganda untuk berusaha memudarkan nama dan wibawa Khairuddin
Barbarossa dengan memproduksi berbagai film yang menggambarkan bahwa ia sebagai
seorang bajak laut yang kejam dan licik, seperti dalam film Pirates of
Carribean (2003), One Piece (1998) serta yang lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Dr.
Hamka, Prof. 2016. “Sejarah Umat Islam”. Gema Insani : Jakarta.
Yatim,
Badri. 2014. “Sejarah Peradaban Islam II”. Rajawali Pers : Jakarta.
Kusdiana, Ading. 2013. “Sejarah Kebudayaan
Islam Periode Pertengahan”. Pustaka Setia : Bandung.
Ratnasari, Dwi.
2013. “Sulaiman al-Qanun : Sultan Terbesar Kerajaan Turki Utsmani”. UIN Sunan
Kalijaga : Yogyakarta.
Ryan Hafiez,
Muhammad. 2016. “Politik Ekspansi Turki Utsmani di Bawah Kepemimpinan
Suleiman The Magnificent 1520-1566 M”. Universitas Pendidikan Indonesia :
Bandung.
Soultansyah,
Hilfah. 2014. “Sultan Sulaiman al-Qanun (Suleiman the Magnificent)”. http://hilfan.staff.telkomuniversity.ac.id.
[1] Mahasiswa
Sejarah Peradaban Islam, UIN Sunan Gunung
Djati Bandung, Email : h3ndro26@gmail.com, @SejarahperadabanIslampertengahan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar